6 Jurus Merawat Komunitas

April 10, 2018

Oleh : David Efendy

Tulisan ini merupakan salah satu bagian dari buku yang sedang saya tulis yang saya beri judul #MicrobaLiterasi: Bagaimana Kekuatan Apresiatif Memperkuat Komunitas yang sedianya di penghujung tahun ini harus terbit. Hal ini saya anggap sebagai kewajiban untuk membagikan nilai-nilai yang diyakini oleh penulis dan juga pegiat Komunitas perihal bagaimana kita memulai langkah menciptakan Komunitas pembelajar (1), Komunitas yang emansipatif (2) dan juga Komunitas yang mempraktikkan nilai-nilai keseimbangan terhadap semesta (ekoliterasi) atau Komunitas yang pro-ekologi.

Ketiga paradigma tersebut di atas pada merupakan hasil dari refleksi pegiat Rumah baca Komunitas (RBK) yang usianya telah melintasi tiga tahun. Di awal periode kita banyak berorientasi pada pentingnya membangun Komunitas yang mempunyai spirit pembelajar (community learning) yaitu Komunitas yang senantiasi mendorong pegiat dan masyarakt untuk berani belajar hal baru dan melawan segala ketakutan akan keterbatasan akses terhadap pengetahuan. Pada periode ini kita berikan label sebagai RBK Madzab Onggobayan. Tahun kedua, RBK banyak berupaya untuk keep in touch dengan aktifis/Komunitas yang concern dalam bidang “kelompok marginal” sehingga madzab Paris ini dikonsepsikan dengan Gerakan Literasi emansipatif. Sementara memasuki tahun ketiga di markas baru di Kalibedog, RBK menyuarakan dan menggagas gerakan ekoliterasi yang ramah lingkungan dan apresiatif tehadap budaya dan kesenian nusantara. Madzab Kalibedog masih berdinamika untuk meneguhkan jati dirinya.

Pada bagian ini penulis berusaha sebisa dan seorisinil mungkin menceritakan apa sebenarnya yang menggerakkan pegiat RBK, bagaimana nilai-nilai memberikan konstribusi bagi denyut nadi kehidupan Komunitas, serta jurus-jurus lain yang dianggap mampu merawat dan menciptakan soliditas Komunitas. Tentu, ini hanyalah sepenggal ‘kemenangan kecil’ yang setiap hari pegiat RBK ukir bersama dan bila hal ini dapat dijadikan pelajaran bagi Komunitas lain atau inisiator Komunitas baru tentu adalah suatu kegembiaraan tersendiri bagi saya, sebagai bagian dari Komunitas RBK.

membangun Kesadaran

Perintah membaca dalam surat al-qalam tersebut ditafsirkan oleh Quraish Shihab sebagai aktifitas yang terdiri dari membaca, menyimak, memahami, dan meneliti. Artinya, dimensi perintah membaca ini lebih luas dari sekedar membaca secara tekstual tetapi adalah bagian dari perintah agar manusia menggali hasanah ilmu pengetahuan yang tersedia di alam semesta ini.

Dalam surat berbeda, kalau tidak salah dalam surat Thoha:114 berbunyi; ” dan katakanlah (olehmu Muhammad, “ya tuhanku, tambahkanlah diriku ilmu pengetahuan.” Ini semakin membenarkan bahwa perintah membaca adalah sama dan sebangun dengan perintah untuk memperkaya ilmu pengetahuan sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Karena manusia adalah khalifah dimuka bumi, maka sudah sepatutnya dalam jiwanya ada kebijakan untuk membina hubungan baik dengan sesame dan juga upaya sungguh-sungguh untuk melestarikan keseimbangan ekologi (hubungan dengan lingkungan). Bulan Ramadan benar-benar menjadi media untuk reflektif asal-muasal penciptaan ilmu pengetahuan dan juga bulan untuk diisi dengan kegiatan yang dapat mendayagunakan pengetahuan untuk kemanfaatan sebesar-besarnya untuk kehidupan.

Hal ini dapat diartikan bahwa membaca adalah manifestasi dari keimanan (teologi) maka seharusnya membaca itu harus diperkuat dengan semangat theologis-membaca bukan aktifitas lahiriah semata tetapi menjadi bagian dari ibadah yang sangat penting. Ibadah yang didasari oleh ilmu pengetahuan tentu akan jauh lebih berkualitas. Dan kita pun harus memamahi paradigm al-quran, bahwa membaca itu bukan hanya memahami apa yang tersurat (eksplisit; tekstual) tetapi juga memahami dimensi yang tersirat (implisit) yang jauh lebih luas. Dengan demikian, aktifitas membaca atau gerakan literasi mempunyai pijakan ideology yang inklusuf karena ilmu pnegetahuan itu sejatinya mempersatukan beragam keyakinan theologi. Sangat mungkin, rendahnya budaya membaca bangsa Indonesia mempunyai korelasi dengan kehampaan theologis terkait pentingnya membaca.

memperkuat nilai

Mengamini Pratiwi Retnanigdyah yang menuliskan bahwa “Budaya membaca menjadi salah satu sebab negara seperti Jepang, Amerika atau Australia menghasilkan berbagai inovasi” tentu kita kemudian menganggap buku adalah sumber pengetahuan yang sangat berharga. Hal ini kemudian mengantarkan kita bahwa aktiftas di dunia literasi merupakan public values atau hal yang sangat bernilai bagi suatu bangsa.

Paradigm beragama yang kritis (di atas level kesadaran magic dan Naif) akan mengantarkan kepada aktifitas yang mampu menyatukan antara yang transeden dan yang profane, antara keberpihakan kepada nilai-nilai ajaran agama dengan kemanusiaan. Hal ini pun berlaku dalam konteks aktifist literasi yang mana nilai-nilai perjuangan adalah sebuah keniscayaan. Di RBK saban hari kita diingatkan oleh (1) pentingnya nilai-nilai kemanusiaan (humanism) atau meminjam bahasanya Paulo Friere yaitu Komunitas yang mampu dan berusaha memanusiakan manusia. Tidak ada atasan dan bawahan, kalau pun struktur pembagian tugas ada tidak berarti salah satu bagian menjadi subordinasi lainnya dalam pola industrial yang eksploitatif; (2) nilai-nilai menghargai sesame pegiat sehingga pola relasi menjadi nyaman dan menggembirakan; (3) nilai-nilai kejujuran sejak dalam pikiran; (4) nila-nilai dan praktik yang pro-lingkungan sehingga dalam kehidupan sehari-hari.

menghimpun kekuatan yang ada

Komunitas yang sehat menurut hemat saya adalah Komunitas yang mampu memberdayakan kekuatan sendiri, kemampuan pegiatnya, dan juga kekuatan jaringan yang sudah dimiliki. Mental berdikari yang pernah diajarkan oleh Bung Karno dalam Trisakti merupakan nilai-nilai kekuatan yang layak kita pertahankan. Hal ini menjadikan kita terus menerus percaya terhadap nilai-nilai kerelaan (voluntary) sebagai modal sosial sekaligus kekuatan moral yang tidak mudah dipatahkan oleh godaan materi dan ketenaran.

Seringkali ada pertanyaan mengenai dari mana sumber dana untuk mengoperasikan beragam kegiatan di RBK. Dan tentu saja ini tidak mudah memberikan penjelasan karena kadang kita bicara kerelaan di zaman sekarang menjadi klise dan utopia sehingga seringkali saya harus sedikit hati-hati untuk menghindari ‘lebay’ ketika kita menunjukkan bahwa di Komunitas ini masih hidup ‘jiwa kerelawanan’ dan peduli kepada Komunitas. Jujur, RBK belum pernah mengajukan pendanaan ke lembaga pemerintah maupun swasta. Selama tiga tahun, RBK dihidupi oleh pegiat dan simpatisannya. Oleh pengurus dan keluarganya. Karenanya, terima kasih tak terkirakan atas dukungan kepada keluarga pegiat di mana pun berada.

Mengapa kita tidak menjalankan saran orang agar kita ‘menjual’ proposal ke lembaga tertentu untuk mendapatkan dana? Salah satu alasannya adalah kita ingin menjadi gerakan rakyat yang tumbuh alamiah dan tidak bergantung kepada Negara. Negara bukan musuh kami, tetapi pegiat RBK ingin memberikan sumbangsihnya dengan terus menerus memperkuat apa yang kita miliki, apa yanga da di pikiran, jiwa, dan raga penggiatnya.

Spirit Microba (Bersahabat dengan siapa saja)

jika dalam tanah terdapat jasad renik yang disebut microba yang jumlahnya tak terhitung yang bertugas mengubah berbagai polutan kurang berbahaya menjadi lebih atau sangat berbahaya maka microba literasi juga mempunyai tugas mengubah energi positif anak bangsa melalui buku-buku untuk menjadi kekuatan baru yang lebih berbahaya untuk memagari republic ini dari kerusakan. Energy positif berupa microba literasi lambat laun, karena kekuatan berlipatganda, akan mentsransformasikan bangsa menjadi bangsa yang berdaya dengan rakyat yang berdikari.jika literasi menjadi endemic tentu benih-benih pohon kebangsaankita akan tumbuh dengan suburnya. Ini adalah spirit yang menjadi motivasi sekaligus kekuatan dalam diri.

Pekerja dan pegiat literasi tak boleh merasa kesepian walau faktanya dunia literasi adalah dunia sunyi tanpa sorakan. Tetapi dinamika dalam Rumah sunyi sebanarnya adalah suara adzan untuk menyiapkan generasi yang tercerahkan menghadapi zaman yang terus menerus menggerus kekuatan sosial. Dengan terus menerus menjaga pertemanan, jejaring, dan komunikasi melalui beragam media adalah bagian penting agar gerakan literasi tak mati sebelum berkembang. “siapa saja dapat menjadi penggerak literasi.”, pesan singkat Dauzan Farook (aktifis literasi asal Kauman) yang mendedikasikan dirinya sampai usia senja dalam membangkitkan minat membaca masyarakat Yogyakarta.

Kekuatan persahabatan adalah #microba literasi yang sangat vital. Gerakan literasi baru hendakanya tidak membangun sentral yang menjadikan gerakan kecil lainnya kehilangan optimismenya. Gerakan literasi baru nan segar harus berani mengatakan bahwa untuk menjadi pegiat literasi itu tidak sulit, untuk membangun dan mengembangkan Komunitas literasi itu sederhana dan muda. Jadi ada dilemma, kalau kita terlalu maju sebagai sebuah Komunitas, belum tentu orang akan antusias mengikuti apa yang kita lakukan. Menjadi Komunitas yang kreatif di bidang literasi artinya gerakan kita nyata, dinamis, dan mudah direplikasi di tempat lain.

Memberikan Penghargaan

Komunitas informal dapat mengadopsi beragam pengetahuan yang inofatif untuk menjaga keberlangsungan hidupnya. Ilmunisasi Komunitas atau pengilmuwan Komunitas adalah suatu keniscayaan bagi gerakan literasi. Dalam kegiatan obrolan “renstra” RBK pada tahun 2014, awal di Kalibedog, kita memperkenalkan secara detail pendekatan Apresiatif Inqury (AI) yang digagas oleh Cooperider (2005) dalam merawat dan mengelola Komunitas. AI ini dapat berfungsi sebagai metode penelitian sekaligus menjadi praktik interaktis dalam mengelola Komunitas “sosial.” Dalam kasus Eropa dan beberapa Negara lainnya, metode ini kerap kali dipakai oleh pekerja sosial untuk mendapatkan beragam pembaharuan sosial (social innovation). Contohnya untuk meyakinkan kepada pemerintah bahwa penjarah bukanlah tempat yang terbaik untuk anak-anak pelaku “kriminal”. Begitu juga panti asuhan (institutional Care).

Pendekatan apresiatif merupakan pendekatan yang berbasis pada kekuatan organisasi/Komunitas (strength-based) dimana sebuah managemen perubahan dimulai dari menghargai capaian/situasi apa yang ada (appreciate), kemudian membayangkan apa yang bisa diperkuat dari yang ada (imagine), lalu berikutnya adalah membayangkan apa yang seharusnya (determine), dan berakhir pada upaya sungguh-sungguh untuk menciptakan hal baru yang dimimpikan (create). Pola ini menurut penulis sangat mungkin dapat dipekerjakan di alam Komunitas yang mengedepankan aspek voluntarism. Membangun dari kekuatan yang ada itu berarti tidak mengeluhkan apa yang tidak ada dan seharusnnya ada tetapi spirit optimis. Dari pada terus menerus mengutuk kegelapan dan persoalan, akan sangat baik untuk memulai menyalakan api (walau kecil). Inilah ilham terbesar dari gerakan literasi di RBK yang dipelihara dengan nilai-nilai apresiatif.

Sharing

sharing is caring. Mantra itu seringkali diungkapkan dalam beragam poster dan tulisan di RBK sebagai pengingat bahwa tugas seorang aktifis pembaharu sosial adalah terus menerus memberikan sesuatu yang bermanfaat kepada sesama. Tidak pernah lelah untuk menyumbangkan pengetahuan, energinya, dan segala yang kita miliki untuk memajukan masyarakat. Di RBK, kekuatan sharing ini mewujud pada pola pinjam meminjam buku, perpustakana jalanan, penitipan buku di RBK, dan arisan tulisan yang ada di website www.rumahbacakomunitas.org. kekuatan sharing adalah kemenangan yang seharo-hari kita peroleh.

Dalam pengelolaan Komunitas, sharing beragam kekuatan dan ide gagasan merupakan hal yang sangat berharga. Hal ini yang akan memberikan konstribusi akan munculnya beragam ide segar, kebaruan, dan praktik yang menunjukkan kekompakan Komunitas. Sharing adalah bagian dari refleksi yang juga hal sangat mendasar dalam menjaga Komunitas bekerja dengan penuh makna/nilai di dalamnya.

Selain itu, tugas dan kewajiban kaum intelektual terdidik adalah belajar dan belajar untuk rakyat. Pengetahuan yang kita peroleh adalah modal besar yang kita meliki untuk senantiasa berdiri dan berpihak kepada rakyat. Itu yang musti kita lakukan jika tidak mau menyandang sebagai pengkhianat intelektual. Sebagai penutup, bagi pegiat literasi dan siapa saja penting untuk melihat spirit berbagi RBK: “Jika kita tak mampu memberikan buku kepada khalayak ramai, setidaknya kita bisa mengantarkan buku-buku sampai kepada orang tua asuhnya, para pembacanya.

Leave a Reply:

Your email address will not be published. Required fields are marked *