Oleh Fikri Fadh*

Teriknya siang sudah tergantikan dengan sumuknya malam. Cuaca seperti apa sebenarnya akhir-akhir ini.

Meringkuk sendiri di bawah mobil sedan putih. Honda accord keluaran tahun 1980-an itu hampir setiap hari terparkir disitu. Tanah kering yang menempel di separuh ban, menandakan lamanya ban itu tidak beranjak. Tempat yang cocok untuk meringkuk.

Seekor kucing jantan tua, yang bagian antara dua telinganya sudah bundas tak berbulu, meringkuk di bawahnya. Matanya agak belekan, dan berkaki pincang. Jika diperhatikan, sebenarnya dia memiliki mantel bulu yang indah, kombinasi hitam dominan putih.

Tidak ada tempat yang lebih nyaman dari kolong sedan itu. Kolong itu lebih menerima dirinya, dari pada teras-teras keramik milik manusia. Kucing berkepala bundas itu meringkuk dengan waspada. Meskipun dia seekor pejantan, tapi dia sudah tua. Ketangguhannya tinggal sebuah cerita. Piala kekuasaanya sudah karatan.

Perutnya agak kempes hari ini. Tidak mendapatkan sesuatu yang bisa dia makan. Tempat sampah yang terbuat dari tong-tong bekas, semuanya hanya berisi plastik dan puntung rokok, beberapa terdapat kaleng bekas sarden, dan bungkus mie instan. Hanya tersisan bau ikan, tidak ada yang tersisa untuk membasahi lidahnya.

Tapi itu untuk tadi siang. Tuhan sungguh adil, sore itu dia mendapati potongan tulang ayam yang tersisa di sebuah teras keramik. Dia makan dengan cepat-cepat. Menjilat-jilat kaki depannya. Merasakan nikmatnya. Sedikit lupa akan sebuah kewaspadaan.

“Plakkkk. . . .!!! sapu ijuk mendarat tepat di kaki belakang sebelah kanan. Dia lari terbirit tak tentu arah. Tentu larinya tidak lebih cepat dari respon WatsApp, dia sudah tua, tidak bertenaga dan kakinya pincang. Gagang sapu yang terbuat dari kayu, melemahkan otot tuanya. Dia harus membayar tulang ayam yang dia makan, dengan pincangnya kaki belakang sebelah kanan. Setelah berlari menjauh dia berhenti, menjilati kaki belakangnya –mungkin ini bayaran yang setimpal, Tuhan.

Malam ini. Sesekali dia terjaga, menaikkan kepala, menengok keadaan sekitar. Kewaspadaan harus dia tingkatkan. Terlebih, bundas di kepalanya baru beberapa hari diterima di kepalanya. Kaki pincangnya juga baru sore tadi dia terima.

Dia tidak bisa mencari tempat lagi, sudah tidak kuat berkelahi. Kepalanya yang bundas adalah hasil mempertahankan diri. Kucing jantan yang mudah sudah mulai berekspansi. Hanya sekitaran komplek yang terparkir sedan inilah yang tidak terjamah. Bukan hanya karena ada pejantan tua tadi. Manusianya hanya ramah kepada sesama, tentunya hanya sesama manusia. Belum berlaku untuk sesama ciptaan Tuhan.

Sekali lagi di menaikkan kepala, menunduk lagi. Sebenarnya jika malam hari, pengelihatannya tajam, sebagaimana kucing yang lain. Tapi luka di matanya belum sembuh total. Sedikit lebam di tambah belek. Sandal swalo ijo, jum’at lalu mengenai kepalanya. Entah apa yang menjadi penyebabnya. Sandal yang menjadi saksi perginya sholat jum’at, telah mendarat di sebuah kepala hewan yang dianggap keparat.

Meringkuk di bawah kolong mobil. Lebih aman untuk mengistirahatkan diri. Teras keramik bukan untuknya. Dia sadar, jika bertamu harus mengucapkan salam. Kalau tidak, akan ada salam sendal, salam sapu dan salam benda keras yang lain. Sebenarnya Assalamu’alaikum itu berlaku untuk siapa? Apakah kucing tidak terakomidir dalam salam itu? Lebih pantas jika menerima salam sapu?

Malam ini, dia mengucapkan salam pada semesta alam raya. Menitipkan takdir kepada Penguasa semesta alam raya. Dalam lapar, dia tidak pernah bertanya, apa agama manusia? Agama tidak akan membuat perutnya kenyang. Namun malam ini dia tahu, harus mengucapkan salam, karena malam ini adalah malam Isra’ Mi’raj.

Assalamu’alaikum semesta alam raya. Semoga tasbihku diterima, dan berhenti bertanya soal agama jika masih sempit pemahaman, hanya mengasihi sesama.
____________
*Founder Komunitas Literasi Janasoe.

Leave a Reply:

Your email address will not be published. Required fields are marked *