Oleh : Riza Azyumarridha Azra

Sejarah mengajarkan bahwa tanpa ilmu, bangsa yang mempunyai kekuasaanpun, tidak dapat mempertahankan miliknya, malah dia akan bergantung kepada orang atau bangsa lain yang lebih berilmu. Amerika sangat memahami posisi penting dunia ilmu ini, Philip Coomb, mantan wakil menteri Menteri Luar Negeri Amerika Serikat pada masa pemerintahan John F Kennedy, menjadikan pendidikan dan kebudayaan sebagai aspek keempat dari politik luar negeri, disamping ekonomi, diplomasi dan militer. Dalam perang modern, persenjataan lebih bergantung pada ilmu pengetahuan ilmiah dibandingkan dengan hitungan tradisional jumlah tentara dan militer .

Hanya saja mencari bulir ilmu dan hikmah diantara tumpukan sampah peradaban yang bercorak duniawi bukanlah hal yang mudah. Hal ini semakin diperparah dengan lebarnya jarak antara kemajuan peradaban Barat dengan dunia Islam, yang menyebabkan lembaga-lembaga pendidikan di dunia Islam, sampai pada perguruan tingginya merupakan konsumen dari ilmu pengetahuan yang dihasilkan oleh peradaban Barat. Kondisi ini oleh Syed Hussein al Attas disebut sebagai benak yang terbelenggu (captive mind) yang ditandai dengan tidak dimilikinya kreatifitas dan kemampuan untuk mengungkapkan masalah yang orisinal, mengalami pandangan yang terpecah dan terasing dari isu-isu besar masyarakat maupun tradisi bangsanya sendiri.

Kaum terdidik yang dihasilkan oleh benak yang terbelenggu, alih-alih mencerdaskan kehidupan bangsanya justru menjadikannya semakin terjerat kedalam neo imperialisme. Tidak punya keberanian untuk merumuskan alternative keluar dari bangsa penjajah, tapi menghambakan dirinya pada korporasi trans nasional yang siap memanjakan kehidupan individualnya. Pada posisi inilah sebenarnya peran mahasiswa dan Perguruan Tinggi ditunggu kiprahnya untuk memberikan kesadaran intelektual betapa pentingnya melakukan rekonsktruksi peradaban milik sendiri, sehingga kehidupannya tidak bergantung pada pihak lain. Mendidik barisan intelektual yang berjiwa merdeka dan berani berjuang untuk menegakkan peradabannya sendiri. Muhammad Natsir pernah mengingatkan pentingnya membentuk karakter manusia pejuang ini.

“Sejarah telah memberi tahu pada kita, bahwa bangsa manapun yang berjuang demi kelangsungan merek, dengan menempuh marabahaya demi mempertahankan eksistensi, tentu pada suatu saat akan mempunyai tingkat peradaban yang tinggi. Mereka akan menemukan kebudayaan sendiri. Mereka dapat “memberikan pelajaran budaya” pada bangsa-bangsa lainnya, disamping memberikan “warisan budaya” pada keturunan atau bangsa-bangsa di belakang mereka. Ini adalah sunnatullah yang berlaku baik di Barat maupun di Timur, sejak dari bangsa Cina, India, Mesir, Romawi, Arab, sampai bangsa-bangsa dunia Barat sekarang ini.

Gerakan Literasi juga sangat memiliki peranan penting dalam membangkitkan budaya ilmu untuk membentuk bangsa yang tangguh yang mampu menemukan kebudayaannya sendiri. Gerakan literasi perlu untuk terus digulirkan dan dijaga eksistensinya, karena dengan gerakan literasi yang massif maka akan membangkitkan tradisi keilmuan di masyarakat yang nantinya akan menciptakan cara pandang ilmu secara otentik melalui gerakan literasi yang orisinil. kerap kali ketika kita mendengar literasi yang tergambar dalam benak kita adalah buku, tetapi hakikatnya literasi tidak melulu berbicara masalah buku tetapi bagaimana kita bisa membaca alam membaca sosial masyarakat serta membaca problem yang ada dilingkungan dan bisa berinteraksi dengan sekitar menggunakan nalar ilmu yang sehat.

Mencari Model Gerakan Literasi

Pada kenyataannya saat ini gerakan literasi khususnya melalui budaya membaca belum menemukan komposisi yang pas untuk bisa menyatu dengan masyarakat. Tidak bisa kita pungkiri rendahnya minat baca dalam masyarakat bisa menjadi salah satu tolak ukur bahwa membaca untuk memperoleh ilmu belum menjadi suatu kebanggaan, hoby atau ekstrimnya belum bisa menjadi candu di masyarakat. Padahal sebegitu pentingnya budaya literasi untuk membentuk masyarakat ilmu serta melalui buku pula jendela dunia akan terbuka lebar memberikan inspirasi baru dan pengalaman baru dalam kehidupan. Dalam kitab suci Al Qur’an ayat yang pertama kali diturunkan adalah iqra’ bacalah, hal tersebut menekankan kepada kaum muslim bahwa wahyu pertama yang diajarkan adalah bacalah bagaimana seseorang didorong untuk mendapatkan ilmu dengan membaca.

Perlunya mencari komposisi yang ideal untuk mencari model gerakan literasi yang bisa dengan mudah berdiaspora dan menyatu dengan masyarakat, menjadi suatu gerakan yang orisinil dan otentik, untuk membentuk atmosfer keilmuan di masyarakat. Memang tidak mudah untuk menciptakan budaya literasi dalam suatu tatanan masyarakat, butuh proses panjang untuk bisa menciptakan atmosfer ilmu. Selain itu, membutuhkan banyak pihak untuk bergerak bersama saling menguatkan.

Gerakan literasi harus berjamaah, antara guru, orang tua dan komunitas harus serentak menciptakan atmosfer ilmu di masing-masing jangkauan. Bagaimana guru bisa bergerak menciptakan budaya literasi di kelas-kelas, kemudian ada orang tua yang bisa membentuk budaya literasi di rumah-rumah. Terakhir, ada komunitas yang terus mendorong lingkungan masyarakat untuk berliterasi yang menggembirakan. Tiga komponen tersebut berperan besar untuk bahu-membahu berjamaah, membuat atmosfer keilmuan baru terkait literasi, karena ketiganya saling beririsan dan saling terhubung satu sama lain. Tinggal saat ini bagaimana kesadaran dari elemen tersebut untuk bergerak berjamaah, memassifkan gerakan literasi, terkhusus budaya membaca yang saat ini masih sangat memprihatinkan di masyarakat.

“Gropyokan Literasi” tidak hanya dilakukan berjamaah oleh guru, orang tua ataupun komunitas, tetapi juga pihak pemegang kebijakan, dalam hal ini pemerintah. Baik pemerintah pusat maupun daerah bisa membuat kebijakan yang menciptakan atmosfer keilmuan di masyarakat, serta bisa semakin menguatkan gerakan literasi di akar rumput. Meskipun kebijakan pemerintah tidak berimplikasi besar, tetapi setidaknya gayung bersambut untuk gropyokan atau kroyokan literasi yang bisa menciptakan masyarakat ilmu. Selain itu, peran media masa juga cukup strategis dalam mengisukan gerakan literasi, khususnya budaya membaca dan membangkitkan kecintaan terhadap ilmu.

Bagaimana budaya membaca bisa menjadi suatu model baru yang digemari generasi saat ini, setidaknya ketika media ikut aktif mengisukan gerakan literasi secara massif, bisa menggantikan berita-berita hoax, kriminal maupun berita negatif, diganti dengan berita-berita positif yang menginspirasi di dunia literasi. Yang terakhir adalah peran NGO atau lembaga zakat untuk bergerak bersama menguatkan gerakan literasi, dengan mem-backup pendanaan atau menguatkan dengan fasilitas pendukung Komunitas-komunitas literasi, bisa membantu anak-anak yang tidak mampu di daerah pedalaman, dengan dukungan melalui lembaga zakat yang ada. Hal ini akan lebih menguatkan sinergitas gerakan literasi untuk membangkitkan kembali tradisi keilmuan.

Di Banjarnegara ada suatu semangat baru yang menggembirakan literasi, kolaborasi yang begitu indah untuk menggelorakan gerakan literasi dan membangkitkan tradisi keilmuan. Gerakan literasi di gerakkan oleh anak-anak muda yang inspiratif, ada komunitas sekolah inpsirasi pedalaman yang awalnya setiap bulan sekali anak-anak muda ini turun ke pedalaman-pedalaman banjarnegara untuk belajar bersama anak-anak di pedalaman yang putus sekolah serta mengisnisiasi taman pustaka di sekitar daerah tersebut, berawal dari keprihatin para pejuang literasi banjarnegara melihat Indeks Pembangunan Manusia Banjarnegara menempati urutan nomer dua terendah se jawa tengah, hal tersebut yang mendorong anak-anak muda yang inspiratif ini untuk terus bergerak menginspirasi dan memberikan kebermanfaatan, tidak hanya itu terkadang mereka juga membawa para pejabat, pengusaha, polisi, wartawan, dokter, dll untuk ikut bercerita di pedalaman agar menciptakan kepedulian bersama serta timbul rasa peduli untuk bergerak bersama.

Disisi lain ada Lazismu banjarnegara yang terus tiada henti memberikan supportnya pada sekolah inspirasi pedalaman dalam hal finansial maupun fasilitasi transportasi berupa mobil dan yang lainnya menambah kekuatan dalam dalam gerakan literasi tersebut. Ada pula para wartawan yang secara otomatis meliput setiap kegiatan yang dilakukan oleh teman-teman sekolah inspirasi pedalaman serta yang terakhir peran pemerintah selaku pemegang kebijakan yang juga ikut mensupport teman-teman sekolah inspirasi pedalaman, bahkan pernah wakil bupati banjarnegara ikut blusukan ke pedalman banjarnegara untuk belajar bersma anak-anak pedalaman. Tak berhenti disitu, para pejuang literasi Banjarnegara juga melakukan langkah progresif dengan menginisiasi Rumah Baca Komunitas di Kampung Kauman, di pusat kota Banjarnegara.

Rumah Baca Komunitas harapannya bisa menjadi corong gerakan literasi di Banjarnegara sebagai tempat berkumpulnya seluruh komunitas yang bergerak dibidang literasi, berkumpulnya para guru-guru pembelajar, pusat diskusi berbagi pikiran para pegiat literasi, serta bedah buku yang diagendakan rutin dengan mengundang para pemegang kebijakan agar lebih massif membumikan budaya literasi di masyarakat. Rumah Baca Komunitas oleh anak-anak muda progresif di setting dengan indah dan sangat nyaman, buku-buku bertebaran yang semakin menguatkan atmosfer keilmuan.

Para “booklovers” pun tidak ketinggalan untuk berkumpul merapatkan barisan saling mengingatkan untuk membaca, mereka berkumpul dalam suatu wadah yg bernama Komunitas Baca Bersama yang memiliki target satu minggu menyelesaikan dua buku dan juga telah menyelenggarakan beberapa acara bedah buku di rumah baca komunitas kampung kauman. Serta ada juga teman-teman yang gemar menulis menyelenggarakan sekolah kepenulisan yang konsepnya satu angkatan selesai dalam kurun waktu satu tahun dengan fasilitator senior dan diadakan pertemuan “upgrade” ilmu setiap bulannya, yang semakin memberikan warna indah gerakan literasi di banjarnegara.

Guru-guru pembelajar dan juga para pegiat literasi membuat suatu komunitas baru yang disebut Komunitas Guru Belajar. Forum ini memberikan ruang belajar tiada henti untuk para guru, orang tua dan komunitas agar bisa saling berbagi ilmu terkait problem di lapangan, kemudian problem tersebut disleseikan bersama-sama. Hal tersebut menciptakan atmosfer yang semakin kental untuk kolaborasi literasi. Rumah Baca Komunitas Kampung Kauman mencoba untuk memberikan ruang kolaborasi literasi dan menyebarkan virus-virus literasi secara massif, dalam rangka menciptakan budaya literasi di Banjarnegara.

Terakhir, hal menarik yang saya catat disini adalah melihat pentingnya untuk kembali membangkitkan tradisi keilmuan melalui gerakan literasi secara berjamaah, atau berkolaborasi dan melibatkan kesadaran bersama di seluruh elemen masyarakat. Gerakan literasi ini tidak bisa dilakukan sendiri, harus dilakukan secara berjamaah dan kroyokan. Ketika seluruh elemen masyarakat sudah sadar dan bersama-sama bergerak, maka akan terbentuk atmosfer literasi yang menggembirakan. Selain itu membentuk tatanan masyarakat ilmu yang juga menggembirakan, dan kelak akan segera hadir bangsa tangguh yang kokoh dengan jatidirinya.

Leave a Reply:

Your email address will not be published. Required fields are marked *