Oleh :  Yekti Nunihartini

Desa, mendengar istilah ini barangkali yang tergambar adalah sebuah wilayah yang berada di pinggiran, jauh dari keramaian, sejuk, pemandangan yang masih alami atau apapun yang berkebalikan dengan apa yang ada di kota. Menurut R. Bintarto, Desa adalah perwujudan geografis yang ditimbulkan oleh unsur-unsur fisiografis, sosial, ekonomis politik, kultural setempat dalam hubungan dan pengaruh timbal balik dengan daerah lain. Artinya, bahwa di Desa ada potensi besar yang bisa di gali dan bisa menjadi titik terkecil munculnya sebuah peradaban.

Berbicara tentang literasi dan Desa, Literasi bukan hanya soal membaca, menulis, dan bercerita. Literasi melampaui aktivitas itu, karena membentuk, mempengaruhi bagaimana sistem dan mekanisme kehidupan sosial, ekonomi dan berpolitik , bahkan kehidupan kebudayaan kita” Berdasarkan studi Most Littered Nation In the Word yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016, indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Indonesia persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas bostwana (61). bila melihat data diatas sangat miris dan sangat tidak menyenangkan, pertanyaan nya, dari manakah kita akan memulai untuk merubah itu semua. ada sebuah ide, bahwa dari Desa itu bisa bermula.

Gerakan literasi yang paling familiar adalah gerakan budaya membaca. Persoalannya, mengapa budaya baca itu penting? Sampai hari ini belum pernah ada yang membantah bahwa salah satu karakteristik masyarakat maju adalah melek huruf, sehingga menjadikan aktivitas membaca sebagai gaya hidup. Di negara-negara berkembang tradisi membaca tetap tinggi kendati gempuran media televisi dan internet semakin kuat. Artinya membaca adalah identitas masyarakat berkemajuan.  Karena yang dibangun adalah budaya, maka logikanya tidak mungkin mengubah dalam waktu sekejap. Perlu proses panjang untuk menumbuhkan budaya ini, yang penting adalah bagaimana kita memulainya, tidak hanya wacana tetapi konkret di lapangan. Mengubah budaya berarti juga merubah pola pikir, cara pandang, termasuk hal-hal teknisnya seperti mengganti aktivitas tertentu dan diganti dengan membaca.

Desa, adalah salah satu parameter dimana sebuah bangsa dapat disebut mempunyai peradaban maju. Karena tidak dipungkiri, sebuah budaya, peradaban sosial dan ekonomi dimulai dari sebuah kelompok kecil dari suatu bangsa, yaitu Desa. Untuk menjadi sebuah desa yang siap menerima perubahan dinamika yang ada serta menyikapi perubahan tersebut secara arif dan bijak tanpa meninggalkan kultur budaya yang ada, tentunya sebuah desa harus memiliki sumber daya manusia (SDM) yang siap menerima tantangan dan perubahan dinamika suatu peradaban.

Banyaknya jenis hiburan di masyarakat, salah satunya televisi yang mengalihkan perhatian anak-anak dari buku ke televisi, lebih suka menonton televisi berjam-jam daripada membaca buku, walaupun informasi yang didapatkan dari televisi juga ada yang bermanfaat. Namun perlu adanya keseimbangan agar membaca menjadi sebuah budaya yang ada di dalam masyarakat desa. langkah konkret untuk membangun budaya baru itu bukan dengan selalu memberikan stempel bahwa masyarakat desa minim minat bacanya. Sebab dalam kondisi seperti sekarang ini, dengan tanpa riset pun kita dapat menebak dengan mudah, masyarakat di pedesaan jarang bahkan hampir tidak pernah membaca, karena memang tidak ada yang bisa dibaca. Tapi ke depan, saya kira anggapan ini akan berubah secara perlahan seiring dengan terbangunnya kesadaran masyarakat desa tentang arti penting membaca yang dibarengi dengan ketersediaan sarana baca yang cukup.

Salah satu cara untuk menumbuhkan dan meningkatkan minat baca bagi masyarakat desa sehingga menjadi sebuah budaya, adalah dengan didirikannya perpustakaan, lebih tepatnya Perpustakaan Desa. Dengan adanya perpustakaan, diharapkan masyarakat desa akan mendapatkan suatu informasi maupun wawasan dan hal tersebut dapat menjadikan masyarakat lebih produktif, kreatif, berwawasan lebih luas sehingga akan berpengaruh terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan sosial, budaya dan ekonomi.

Tidak hanya itu saja, perlu adanya kader penggerak literasi yang mampu menyuguhkan berbagai macam model,seorang kader pemberdaya sangatlah penting  agar tujuan akhirnya tidak hanya masyarakat yang mempunyai budaya membaca saja, akan tetapi lebih dari itu masyarakat yang berdaya yang dapat memaksimalkan potensi mereka sehingga bisa menjadikan keluarga khusunya dan Desa pada umumnya menjadi berdaya dan sejahtera. Dari situ dapat digambarkan, apabila semua Desa dapat berdaya, maka Indonesia dan mimpi untuk membuat masyarakat indonesia menjadi berdaya akan lebih mudah diciptakan.

Leave a Reply:

Your email address will not be published. Required fields are marked *