Oleh : Oktiana Budi Utami

Gerakan literasi merupakan sebuah gerakan untuk menumbuh kembangkan karakter anak bangsa yang berkemampuan menghadapi kehidupan, melalui peningkatan pemahaman terhadap beragam teks bacaan. Seiring dengan perkembangan zaman, budaya membaca untuk anak-anak sangatlah sulit. Hal ini dikarenakan anak-anak lebih fokus pada alat elektronik seperti handphone, playstation, dan televisi. Sehingga mereka merasa malas untuk membaca buku.

Padahal kemajuan suatu bangsa atau negara dapat terlihat dari sebuah tulisan dan budaya membaca, bukan dari sumber alam yang melimpah atau pengelolaan manajemen yang baik. “Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku beda.” Kata Bung Hatta, hal ini memberi ilham bahwa buku memiliki peran yang sangat penting untuk menentukan masa depan seseorang hingga masa depan sebuah bangsa.

Pramoedya Ananta Toer “Orang boleh pandai setinggi langit tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang didalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Dari kedua pendapat diatas bahwa budaya membaca dan menulis itu sangat penting.

Menurut kementrian pendidikan dan kebudayaan menyatakan gerakan literasi harus dimulai dari tiga poros, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat. Dari ketiga poros itu yang paling dekat dengan anak-anak adalah keluarga. Oleh karena itu gerakan literasi dapat dimulai dari keluarga. Peran keluarga dalam gerakan literasi adalah dengan cara membudayakan membaca sejak dini. Ketika orang tua membiasakan aanaknya membaca, maka hal itu akan menjadi sebuah kebiasaan hingga anak itu tumbuh dewasa.

Budaya membaca dapat dimulai dengan cara membiasakan diri untuk membaca minimal 15 menit setiap hari atau mereview buku setiap akhir pekan dan mendiskusikannya. Hal ini dapat berjalan dengan lancar apabila dirumah dilengkapi dengan buku-buku berkualitas.

Kebiasaan membaca dan menulis dalam pendidikan literasi di keluarga, membuat anak-anak memiliki tujuan hidup yang lebih sistematis dan bermanfaat. Anak-anak akan terhindar dari pergaulan bebas yang menyesatkan, berpikir picik, hanya karena perbedaan bahkan menjauhkan anak-anak dari tindakan – tindakan intoleran dan tidak peduli.

Supaya budaya membaca dan menulis dapat menjadi sebuah kebiasaan, maka kita harus memaksa anak – anak untuk memulai membaca dan menulis. Mengingat betapa pentingnya budaya literasi bagi bangsa, maka gerakan literasi selayaknya juga dikembangkan dari keluarga dan masyarakat. Aktifitas literasi dalam keluarga beraneka ragam bisa diawali dari keteladanan orang tua menyisihkan waktunya untuk membaca. Memberi fasilitas kepada anak – anak sejak usia dini untuk gemar membaca dan menulis serta memberi motivasi pentingnya membaca dan menulis.

Leave a Reply:

Your email address will not be published. Required fields are marked *