IQRO’ (BACALAH)

March 3, 2018

Oleh : Iftitah Laily Ramadhani

Mengingat perintah Allah di surat al-Alaq,” Iqro’bacalah” dari penggalan ayat di atas sudah jelas perintahnya bahwa kita sebagai umat islam yang berakhlak dan berbudi luhur diwajibkan untuk membaca. Karena membaca itu pada hakikatnya adalah proses belajar. Belajar dari penemuan dan pengalaman dari para ahli. Sehingga kita dapat melakukan pengamalanyang baik yang sesuai dengan syariatnya.

Selain diperintahkan untuk membaca al-Qur’an sebagai pedoman dan petunjuk kita juga dapat membaca buku ahli tafsir yang mungkin belum diketahui maknanya secara gamblang oleh sebagian besar orang. Apakah sama orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui. Apakah sama orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu. Maka dikatakan juga didalam al-qur’an orang yang berilmu akan mendapatkan pengetahuan dan akan ditinggikan derajatnya oleh Allah Swt.

Salah satu upaya untuk menciptakan pendidikan yang berkualitas adalah meningkatkan budaya literasi. bisa kita lihat kegiatan dan rutinitas anak bangsa saat ini tidak lain dan tidak bukan lebih memilih mengakrabkan diri dengan gadjednya . Masih sangat jauh dari kegiatan membaca majalah anak, buku pelajaran, komik maupun membaca novel.  Padahal literasi yakni kegiatan membaca dan menulis yang lebih efektif  untuk mengikat ide-ide dan gagasan-gagasan yang telah dimiliki oleh seseorang. Ketimbang setelah diucapkan kemudian gagasan itu akan hilang begitu saja.

Menurut saya kegiatan literasi ini perlu dimulai dari diri sendiri, kemudian orang tua sebagai role model untuk anaknya. Dari keluarga lalu kemudian masyarakat. Membudayakan literasi di rumah, selain orangtua tampil sebagai tauladan bagi anaknya, bisa juga dengan menghadiahkan buku kepada anak, dengan mengajak ke pameran buku atau toko buku dan hal lain sebagainya yang dapat meningkatkan semangat membaca dan menulis.

Selain itu di sekolah juga perlu untuk meningkatkan budaya literasi, dimulai  dari guru yang memiliki kemampuan menghasilkan karya-karya ilmiah, populer maupun model pembelajaran yang menyenangkan bagi peserta didiknya.

Perlunya komunitas-komunitas yang peduli literasi untuk membudayakan kembali semangat membaca dan menulis dalam kehidupan sehari-hari. Dengan searah dengan gerakan pemerintah dalam mendirikan perpustakaan-perpustakaan di berbagai daerah dan di desa-desa. Misalnya masyarakat di suatu desa yang mayoritas penduduknya adalah seorang petani. Apa perlu nya seorang petani itu membaca. Seorang petani tentunya dapat mengetahui bagaimana cara menanam dan merawat tanaman yang menjaga keorganikannya dengan pupuk-pupuk yang berasal dari bahan-bahan yang organik pula melalui membaca penemuan para ahli terkait pupuk organik dan lain sebagianya.

Kemudian setelah kegiatan membaca dilakukan, setelah melakukan proses belajar mengadopsi gagasan-gagasan atau ide-ide dari pada ahli hal yang paling tepat untuk dilakukan yaitu dengan cara menyimpannya. Menyimpan dalam bentuk tulisan. Karena ilmu yang dituliskan maka akan terjaga dan bisa di buka kembali apabila kita lupa. Seperti dalam pepatah arab yakni “Al ilmu soidun, wal kitaabatu qoiduhu qoyyid suyudaka bil hibaali al waasiqah” yang artinya “ilmu  bagai binatang buruan dan catatan atau tulisan itu adalah pengikatnya, ikatlah buruanmu dengan kuat agar iatidak hilang”.

Kegiatan membaca  juga dapat mengasah daya kembang otak. Semakin sering kita membaca  maka akan sering otak kita menerima gagasan-gagasan dari sang ahli. Oleh karena itu akan semakin tinggi ilmu seseorang maka semakin bijaklah ia. Karena banyak melihat teori-teori dan penemuan-penemuan para ahli sehingga dapat memilih yang terbaik yang sesuai dengan lingkungan hidup maupun dalam bersosial atau berinteraksi dengan orang lain. Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim dan muslimah dan tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat. Kata-kata itu adalah anjuran-anjuran yang wajib dijalani bagi orang-orang yang berpikir. Menuntut ilmu itu wajib dari mana kita menuntut ilmu? Bisa dari membaca, bisa dari guru. Karena guru itu di gugu dan ditiru maka diharapkan guru memiliki kemampuan menulis sehingga dapat memberi tauladan bagi peserta didiknya.

Leave a Reply:

Your email address will not be published. Required fields are marked *