Oleh : Agung Nur Prabowo

Pagi itu saat fajar mulai menyingsing terlihat 2 orang petani, sebut saja pak darmini dan pak darminto.

Duduk santai dibawah gubuk reyot sambil menikmati syahdunya suasana sawah. Diiringi suara gemericik aliran air sungai dan cuitan burung bersahutan, terasa melegakan mereka dengan segala beban hidup yang mereka hadapi. Bermodalkan lintingan rokok dan kopi mereka ngobroll ngalor ngidul membicarakan sesuatu. Obrolan mereka semakin intim sehingga salah satu petani Pak Darmini bergumam dan berkata “Pak, niki sak jane pripun, pemerintah selalu mengandalkan kita sebagai salah satu modal pemangunan pertanian, ning kok kita sebagai peran utama yang diandalkan pemerintah belum merasa sejahtera nggih pak?, menghela nafas panjang dan mengelus dada lalu Pak Darminto menjawab “ya begini lah pak, kita ini bekerja sebagai peran utama tapi hanya dipandang figuran, sebenarnya saya tetap bersyukur karena masih dianggap berperan dalam drama sandiwara yang menyedihkan ini, yang saya pikirkan itu ya pak, sopo nanti yang bakal menjadi pengganti kita, sopo sing bakal neruske perjuangan kita? Rapopo dewe hidup nelongso, tapi justru ini yang menjadi akar permasalahan, mana ada generasi jaman now yang mau bekerja sebagai petani, lha wong bekerja jadi petani saja bikin rekoso tur nelongso?, sambil nyeruput kopi Pak Darmini pun menanggapi “mau sejahtera pripun pak, lha kita kerja saja nek macul lagi panas ya kepanasan, nek hujan ya kehujanan, lapar yang dimakan yo mung sego tiwul, pantes kalo pemuda jaman sekarang kurang tertarik bekerja jadi petani”. Tanpa sadar pembicaraan mereka membuat kopi dan rokok mereka habis, lalu mereka berdiri dan bergegas ke lahan untuk berkerja.

Segala bentuk kekayaan alam di dimilki Indonesia menjadikan pertanian sebagai sektor andalan yang dapat menunjang pembangunan. Namun pembicaraan 2 petani, pak darmini dan pak darminto menunjukan kegelisahan kita bersama akan permasalahan urgent di sektor pertanian, salah satunya yaitu kesejahteraan petani. Di kutip dari Republika.co.id (13/11/17) bahwa dalam rembug nasional 2017 yang digelar dikampus Institut Pertanian Bogor(IPB), Koordinator rembug Daerah Bidang Pangan yang juga Guru Besar IPB Dwi Andreas Santosa menjelaskan sebagian besar orang miskin di pedesaan adalah masyarakat petani. Jika dilihat dari Nilai tukar petani (NTP), kondisi masyarakat petani juga belum cenderung membaik.
Isu kesejahteraan petani sudah seharusnya menjadi wacana penting untuk dibahas oleh pemerintah, karena secara tidak langsung akan berimbas dengan menurunnya regenerasi yang bekerja di bidang pertanian. Menurut data, saat ini hanya sekitar 8 % saja pemuda yang bekerja di sektor pertanian. Dalam mengatasi permasalahan ini yang sebaiknya diprioritaskan oleh pemerintah adalah kesejahteraan petani. Perubahan nyata seperti kesejahteraan petani yang dapat ditunjukan mungkin akan menjadi salah satu strategi, sehingga dengan demikian generasi muda pun akan lebih percaya dan tertarik untuk bergelut di bidang pertanian.

Problem yang ada saat ini bukan hanya tanggungan yang harus diatasi oleh pihak tertentu saja. Butuh dukungan menyeluruh dari berbagai pihak kalangan masyarakat, mulai dari menteri pertanian beserta jajarannya, semua elemen pendidikan khususnya yang fokus di bidang pertanian baik itu sekolah kejuruan maupun Univeritas/Sekolah Tinggi. Mereka harus saling bersinergi untuk mencari solusi bersama dan tentu yang paling penting yaitu harus libatkan petani dalam mencari solusi permasalahan ini.

Perlahan matahari mulai menampakan diri tepat berada di atas ubun-ubun para petani. Mengusap keringat dan mulai bergegas mencari tepat berteduh, seperti biasa pak darmini dan pak darminto beristirahat di bawah gubuk untuk melepas lelah. Pak darminto segera mempersiapkan makan siang untuk mereka santap. Berisikan nasi jagung, sayur daun singkong, sambal terasi, ikan teri dan tempe goreng adalah menu makan siang yang dibawakan pak dirman pagi itu. Pak dirman adalah pemilik lahan garapan pak darminto, sedangkan pak darmini membantu pak darminto dalam penggarapan sawah milik pak dirman. Ditemani teriknya panas matahari segera mereka habiskan santapan makan siang sebelum datang waktu sholat ashar.

“Alhamdulillah kenyang Pak, nikmat tenan ya makan siang kali ini” berkata Pak Darmini dengan raut wajah tersenyum, balas pak darminto dengan anggukan kepala “Pak Dirman itu memang selalu pengertian kok Pak”. Menghadirkan kopi dihadapan mereka sudah menjadi kebiasaan untuk melepas penat dan lelah, terkadang rokok pun juga menjadi pelengkap. “Niki Pak kopinya” berkata pak darminto sambil menyuguhkan kopi kepada Pak Darmini, “matur suwun Pak Minto” balas Pak Darmini.

Beristirahat santai dengan seduhan kopi hangat serta kepulan asap rokok, pak darmini memulai obrolan dan berkata “Pak, menurut sampean seberapa lama bisa bertahan pertanian di Indonesia tetap jaya dan hidup?”, Pak Darminto meminum kopinya dan berpikir sesaat, kemudian membalas pertanyaan Pak Darmini “Sebetulnya banyak isu masalah pertanian yang harus dipikirkan dan diselesaikan, menurut saya pertanian di Indonesai akan jaya dan hidup ketika Pemerintah dan para rakyat khususnya rakyat tani sama sama merasa jaya dan hidup. Banyakin ngopi, disambi ngongkrong lan rembugan antar wakil rakyat dan petani sepertinya akan harmonis, karna kehamonisan itu akan mempertahankan kejayaan dan kehidupan Pak”, begitulah jawaban dari Pak Darminto. Kerutan dahi dengan wajah terheran-heran seketika Pak Darmini berkata “ngeten pun pak!” sambil mengacungkan jari jempol. Obrolan mereka terhenti ketika azdan ashar berkumandang. “Monggo Pak sami di kemasi barang-barangnya” ajak Pak Darminto untuk bergegas pulang.

Banyak isu pertanian yang menjadi Pekerjaan Rumah tangga di rezim kepemimpinan Jowoki. Pemerintah harus sigap mencari permasalahan dari akar-akarnya, dengan demikian permasalahan lainnya pun dapat di telisiki dengan mudah. Seperti contohnya, menurunnya regenerasi penerus yang bekerja di bidang pertanian, maka jika ditelisik lebih dalam akan ditemukan akar penyebab terjadinya masalah tersebut yaitu kesejahteraan petani. Pemerintahan jokowi dan Jusuf Kalla berkomitmen untuk mewujudkan perekonomian yang berkeadilan, maka dari itu kesejateraan petani pun salah satu capaian yang harus diraih dalam perekonomian berkeadilan.

Beberapa program sudah diupayakan untuk mewujukan kesejahteraan petani. Dikutip dari Republika.co.id (11/10/17) bahwa Kementan menemukan kebutukan utama petani meliputi rehabilitasi infrastruktur, sarana (alintan, pupuk, benih, pestisida), pendampingan dan penguatan SDM, penangan pasca panen serta pengendalian harga. Realisasi program yang sudah ada adalah kementan bekerja sama dengan Universitas Brawijaya Malang sedang mengembangkan Program Wirausaha Muda Pertanian (PWWP), program tersebut memberikan stimulus berupa modal dan pendampingan pada kelompok anak muda untuk bertani baik secara on farm maupun off farm, harapannya dengan program ini maka akan meningkatkan kaum muda untuk terlibat dalam sektor pertanian.

Leave a Reply:

Your email address will not be published. Required fields are marked *