Oleh: Agus Triawan

Perbincangan mengenai pemuda dan generasi muda, tidak akan ada habis-habisnya selama masih ada kehidupan berperadaban. Pemuda sebagai agen of change menjadi slogan yang tak pernah redup.  Bahkan kaum tua pun masih menaruh harapan besar untuk para generasinya.  Terus , apa yang dilakukan orang muda sebagai generasi penerus kaum tua?

Pemuda berintegritas

Kaum muda tidak bisa bersikap pasif, menyerahkan segala-galanya kepada mereka yang kebetulan sudah senior dan menduduki jabatan yang memimpin dalam Negara dan masyarakat. Kaum muda adalah bagian dari rakyat, warga Negara yang sama-sama mempunyai hak dan kewajiban (Kebebasan Cendekiawan Refleksi kaum muda, Pustaka Republika). Dalam kehidupan bermasyarakat, pemuda harus punya keoptimisan yang tinggi.

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, Integritas berarti mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan atau  kejujuran. Orang yang berintegritas memiliki pribadi yang utuh seperti angka bulat. Integritas pribadi yang tidak terpecah-pecah dalam kata lain bermakna keutuhan (Fak Tarbiyah UIN Suka Yogyakarta, Kematangfan diri untuk peradaban).

Pribadi unggul adalah pribadi utuh, tidak munafik dan bermanfaat bagi orang lain (khoirunnas anfa’uhum linnas).  Semua hukum, akhlak kepribadian, memerlukan integritas dalam implementasi kehidupan untuk memperoleh dan mempertahankan integritas. Diperlukan empat potensi dasar  manusia, yaitu Spiritual, Emosional, Intelektual dan kekuatan fisik, kemudian menguasai teknologi terapan yang dapat menunjang kehidupan untuk terus istiqomah, konsisten dan dapat dipercaya.  Para pemimpin juga memerlukan integritas diri yang tinggi. Integritas memerlukan keteguhan hati dan kemampuan mengelola diri atau manajemen pribadi.

Pribadi berkeahlian mencari incaran masyarakat dalam kehidupan, baik dalam ranah berpikir ataupun bertindak. Dalam era dan pasar bebas, individu-individu dihadapkan pada perubahan-perubahan yang tidak menentu. Ibarat nelayan di lautan lepas yang dapat menyesatkan jika tidak memiliki kompas sebagai pedoman untuk bertindak dan mengarunginya. Maka layaklah juga para pemuda dijadikan kompas sekaligus tolak ukur kesuksesan suatu peradaban masyarakat.

Untuk menjadi manusia yang bermanfaaat bagi orang lain dalam kapasitas yang lebih luas, maka figur pemuda Muhammadiyah setidaknya disamping menjadi kader keluarga yang berkualitas, juga menjadi kader persyarikatan Muhammadiyah, kader umat dan kader bangsa. Sebagai anggota Pemuda Muhammadiyah, apapun tingkatannya, dari ranting, cabang, bahkan sampai pusat idealnya bermanfaat bagi sekelilingnya. Dari ruang lingkup yang paling kecil. Yaitu diri sendiri dan keluarga.

Bertindak local berpikir global

Sebagai pribadi yang mengayomi keluarga, ketika kita belajar siroh atau sejarah rosul, para sahabat diperintahkan untuk pulang ketika sudah mencapai waktu 4 bulan (kita telaah Sirah nabawiyah, Syaikh Shafiyurrahman Al-Murakfury). Hal itu untuk memberikan nafkah kepada istri dan keluarga, khususnya nafkah batin. Walaupun nafkah lahir ada yang mencukupi dari lembaga berwenang semisal baitul maal ataupun pihak keluarga. Begitu juga halnya dengan kader pemuda muhammadiyah, tidak boleh melepaskan diri dari tanggung jawab keluarga tersebut. Jangan sampai seperti lilin, memerangi alam sekitarnya tapi dia sendiri hancur. Allah SWT juga sudah memerintahkan hambaNya untuk lebih dahulu memberikan nafkah kepada ranah yang paling kecil dulu, yaitu pribadi dan keluarga, Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka. (QS At Tahrim ayat 6).

Ada langkah usaha yang lain agar pemuda muhammadiyah tidak melepaskan tanggung jawab sebagai pribadi keluarga, yaitu dengan Jaringan atau koneksitas. Koneksi pribadi, koneksi lembaga juga koneksi kepentingan. Maka ilmu lobying dan komunikasi mutlak diperlukan pada diri kader pemuda muhammadiyah. Media komunikasi juga diperlukan sebagai alat dalam membantu pergerakan. Tanpa perlu banyak berpindah secara fisik, tapi pikiran dan ide bisa dikomunikasikan dan diaplikasikan. Tapipun begitu pertemuan secara fisik langsung sangatlah perlu untuk kesolidan dan keberkahan pergerakan.

Ide-ide pemikiran kreatif perlu disampaikan, dikomunikasikan dan dirembug dengan sesama komunitas. Ukhuwah dan saling komunikasi pernah dilakukan rosul pada proses persaudaraan kaum ansahar dan kaum muhajirain ktika hijrah ke madinah. Bagaimana dengan yang sudah bersaudara dan kenal lama? Sesama Islam adalah bersaudara tanpa memandang suku, jenis kelamin, ras dan bangsa. Yang Allah perhatikan adalah yang paling bertaqwa diantara kamu sekalian (Lihat Al Hujurat : 13)

Pemuda Muhammadiyah dibutuhkan semua elemen

            Polarisasi budaya dan peradaban dunia telah menimbulkan pelbagai prasangka dan stereotip yang sering kali menimbulkan konflik (Samuel P. Huntington). Pembagian paradigma, budaya dan peradaban juga menambah rumitnya persoalan tentang dimana sebenarnya kita berpijak. Oleh karena itu keterbukaan pikiran sangat diperlukan untuk bisa menerima kebenaran dan kita diterima oleh semua elemen masyarakat tanpa meninggalkan prinsip-prinsip yang kita pedomani.

Saling menghormati antar dan intern umat Islam juga perlu terus dilakukan agar kehidupan berislam semakin makmur dan akur. Walaupun banyaknya organisasi dan gerakan islam terus bermunculan. Tapi kader muhgammadiyah tanpa kehilangan jati diri terus berkiprah dalam kancah kemasyarakatan sebagai wujud sholeh secara sosial. Tidak hanya sholeh secara pribadi dan egoisme surga.  Dengan seperti itu terus beramar makruf nahi munkar, gerakan yang tanpa henti pemuda muhgammadiyah betul-betul sebagai kader persyarikatan, kader umat dan kader bangsa. Semoga

Leave a Reply:

Your email address will not be published. Required fields are marked *