Oleh : Dian Nofitasari

Akhir-akhir ini marak para orang tua memilih jalur homeschooling untuk anak-anaknya. Sebenarnya apa itu homeschooling? Sekolahrumah atau homeschooling adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan/informal (Wikipedia)

Homeschooling bukan lembaga pendidikan. Penanggung jawab utamanya adalah orang tua.

Selama ini homeschooling lebih banyak diterapkan di kota-kota besar. Komunitas homeschooling sudah menjadi hal biasa di sana. Namun, apakah homeschooling hanya bisa diterapkan di kota besar saja?

Beberapa bulan terakhir, saya dan anak-anak pindah ke desa Gemuruh. Desa Gemuruh terletak di Kabupaten Banjarnegara. Hampir seluruh warga Gemuruh menyekolahkan anaknya ke lembaga pendidikan formal. Namun, apakah kenyataan tersebut menunjukkan bahwa tidak mungkin menerapkan homeschooling di sini?

Dengan menyekolahkan anak ke lembaga formal, orang tua di sini mmemasrahkan masalah pendidikan ke lembaga tersebut. Cerdas tidaknya anak bagi mereka adalah tanggung jawab lembaga yang diwakili oleh guru. Padahal bukankah seharusnya hal itu adalah tanggung jawab lembaga dan orang tua?

Lingkungan desa Gemuruh masih cukup asri. Sawah, kebun, dan sungai masih tersedia. Begitu banyak objek pembelajaran tersedia gratis di sini. Sayangnya, itu semua belum dimanfaatkan dengan baik. Orang-orang menganggap itu semua hal biasa yang tak bermakna bagi proses pembelajaran anak.

Pokoknya pendidikan harus terletak di pangkuan ibu bapa, karena hanya dua orang inilah yang dapat “berhamba pada sang anak” dengan semurni-murninya dan seikhlas-ikhlasnya, sebab cinta kasihnya kepada anak-anaknya boleh dibilang cinta kasih yang tak terbatas. (Ki Hajar Dwwantara Pendidikan, halaman 382) Dari pemikiran Ki Hajar Dewantara kita tahu bahwa semestinya pusat pendidikan anak terletak pada orang tua. Hal ini tentu sejalan dengan konsep homeschooling. Orang tua adalah penanggung jawab utama pendidikan anak.

Semenjak saya memilih homeschooling untuk anak-anak, ada beberapa hal yang muncul sebagai tantangan. Pendapat orang-orang sekitar pada umumnya meragukan pilihan ini. Nggak kasihan sama anaknya? Tar sosialisasinya gimana? Tar ujiannya gimana? Nggak punya duit buat nyekolahin anak, ya? Itulah sederet pertanyaan yang singgah di telinga.

Selain keraguan, keuntungannya tentu saja ada. Kami bisa bereksplorasi dengan biaya murah dan pilihan yang banyak. Tinggal pilih tema, tentukan kegiatan. Jika kurang ideal, yakinlah kreativitas akan menyelamatkan hari kami!

Dari pengalaman beberapa bulan ini, dengan yakin saya katakan bahwa menerapkan homeschooling di Desa Gemuruh bukanlah hal mustahil. Objek pembelajaran yang tersedia mendukung eksplorasi anak-anak.

Keraguan dari orang sekitar saya yakin karena mereka belum terpapar informasi tentang homeschooling. Dengan berjalannya waktu, mereka akan melihat bahwa anak-anak tetap bisa belajar meski tidak bersekolah.

Leave a Reply:

Your email address will not be published. Required fields are marked *