Oleh : Nuryulia mardiyati Harahap

“Bunda,besok jadi kan ke jogja,kita mau mampir kemana aja bunda?”,begitulah pertanyaan putri kecil kami .sehari sebelum persiapan acara spesial kunjungan ke wonderfull town Yogyakarta Kota Di kota ini anak sulung kami menghabiskan waktunya di Madrasah Mualimin Muhamadiyah Yogyakarta,melepas masa masa kemanjaanya dulu saat  berdekatan dan bermesra bersama kami ibu bapaknya.Kami relakan ia mewakafkan waktu dan tenaganya demi menjadi generasi yang bermanfaat untuk ummat dan menjadi penerus dakwah Rosululloh,berharap akan sebuah mimpi berkumpul kembali tak terpisah selamanya di syurga Alloh yang indah.Bolehkan kami bermimpi ?!

“Bundaa nanti kita mampir ke gramedia ya?” rengek anak kami, “mau ngapain nduk?” tanyaku, “beli buku cerita”jawab nesa. Biasanya kami memang selalu meluangkan waktu untuk mencari buku bersamaan dengan jadwal kunjungan siswa di madrasah.

Membudayakan membaca dikeluarga tidak sesederhana yang dibayangkan dimana tekhnoligi telah merebut habis waktu generasi muda. Hand phone dan game berpeluang menjadikan waktu itu sia sia  apalagi  bila tidak pandai mengaturnya,ibadah malas,belajar malas,mengaji malas,game,game dan game habislah waktu mereka disitu. Generasi zaman now menjadi lebih suka ngegame daripada membaca. Miris kan?.  Lebih menyedihkan lagi ibu ibunya lebih suka kongko kongko dari pada membaca,lebih suka membeli barang tidak berguna daripada sekedar berlangganan majalah ringan atau sekedar koran yang menemani manisnya waktu luang mereka.

Diera global sekarang ini,dalam dunia pendididkan,dunia kerja,dunia pembelajaran dan media sosial kata literasi menjadi tidak asing lagi seiring dengan perkembangan zaman. Dunia baca tulis akan bisa menjadi standart  majunya peradaban sebuah negara,dimana masyarakat  melek terhadap dunia baca tulis maka masyarakat itu akan mengalami kemajuan dalam segala bidang. Dunia literasi sangat sangat dibutuhkan keberadaannya akan mampu mengubah wawasan keilmuan mengubah negara  lebih maju.

Sederhana saja budaya literasi ini sangat mudah sebenarnya untuk diimplementasikan dalam kehidupan sehari hari misalnya pada saat menunggu,pada saat istirahat,atau  pada jeda waktu apapun dimana ada kesempatan kita untuk menulis dan membaca, lakukan saja! . Maka pikiran kita hidup,berasa lebih sehat,dan jauh dari rasa kesepian,ilmu bertambah,pokoknya mantap jiwa deeh!. Bila hati telah jatuh cinta dengan dunia baca  tulis,waktu  serasa sayang terbuang sia sia  begitu saja tanpa aktifitas tersebut.

Disebabkan rendahnya aktifitas literasi,tidak heran  di negara kita itu jauh tertinggal dibanding cina dan jepang.Di kedua  negara  tersebut kwalitas sumber daya manusianyapun lebih tinggi dibanding negara kita.Bahkan menurut Amirudin Mahmud ,penulis kompasiana beliau katakan Indonesia menempatkan posisi ke-60 dari  61 negara setingkat lebih tinggi dari negara Botswana negara termiskin di Afrika. Maret,2016). Masyarakat kita memang belum membudaya untuk mebaca , lebih suka menghabiskan waktu luang untuk mendengar,menonton,kongko,terkadang untuk hal yang mubah,dibandingkan membaca apalagi menulis.

Dalam kondisi  seperti ini,sebagai orang yang beriman  kita pasti memandang kecintaan pada dunia baca tulis bukan sekedar mengisi kekosongan waktu  melainkan bagian dari ibadah. Makna ibadah yang besar seperti yang tersurat dan tersirat pada empat belas abad lalu saat sang Rosululloh Saw diperintahkan “bacalah!”. Demikian diulang hingga tiga kali oleh malaikat jibril. Maka tidak ada alasan untuk malas membaca dan menulis,lantaran karena kita telah menerima perintah IQRA, sudah berabad abad lamanya.

Lantas kenapa saat ini minat membaca dan menulis itu masih sangat rendah?. Jawabnya adalah kesadaran masyarakat akan pentingnya membaca dan menulis belum membudaya.Sebenarnya ada satu pendekatan religius yang mendalam dalam islam berkaitan dengan baca tulis.  Alquran dan hadist adalah gudangnya ilmu dimana saat kita membaca kita mendapatkan ilmu tapi lebih dari itu,orang yang mencari ilmu maka ia berada dijalan Alloh dan pahalanya seperti orang yang berjihad,jadi nilai ibadah saat kita membaca dan menulis tidak bisa diragukan lagi seperti yang pernah Rosullulloh katakan :

 

Artinya ”Orang keluar rumah mencari ilmu maka ia berada dijalan Alloh hingga ia kembali kerumahnya.”

Ketika kita  memiliki ghirah yang  tinggi saat membaca dan  menulis dan akhirnya kita memulai berproses sedikit demi sedikit  memahami apa pesan pesan Alloh dan rasull Nya maka disitulah kita   juga telah  membangun pundi pundi kesolehan. Insyaallah  bermanfaat dunia akhirat,tanpa disadari kita telah menjadi  bagian dari literasi itu sendiri.

 

Mari kita bangun budaya literasi,melek membaca dan menulis,dari berbagai lini dan siapkan ngegas poool!.

Mari menuju negara dan generasi bangsa yang berajaya.Dengan tradisi literasi  kita wujudkan kebahagiaan,membantu merintis jalan dakwah, berjariyah dengan tulisan. Dengan literasi kita  mudah berbagi, bisa mengkomunikasikan perasaan dan tentunya  lebih bermanfaat karena sedetikpun waktu yang Alloh beri tidak akan bisa kembali.

 

Fastabihulkhoirat

Leave a Reply:

Your email address will not be published. Required fields are marked *