Ramah Anak Ramah Otak

April 6, 2018

Oleh : Nuniek Triana

Anak hakikatnya amanah dari Allah bagi para orangtuanya. Sebuah titipan yang akan membawa para orangtua pada kemuliaan, bila mampu menjaga amanah itu dengan sebaik – baiknya. Namun ironisnya, sering kita jumpai dalam kehidupan kita sehari – hari, masih ada orang tua yang belum menyadari sepenuhnya apa itu makna amanah yang diberikan kepadanya atas seorang anak. Saat semua orang ingin mendapatkan atau memperoleh yang terbaik, semestinya mereka juga memberikan yang terbaik pula. Berikan pada anak semua yang terbaik, mulai dari kasih sayang dan ketulusan, pemberian asupan yang sehat pada jiwa dan raganya serta dukungan yang seimbang pada semua aspek saat pertumbuhan dan perkembangan diri mereka.

Banyak anak yang “ terabaikan ” masa balitanya dari stimulasi yang dibutuhkan sesuai dengan keadaan diri mereka. Sebagai contoh sederhana saja, mulai dari sarapan pagi, sebagian anak hanya diberikan makanan instan ataupun minuman instan. Kemudian siang hari anak diberikan makan nasi dan lauk instan (semacam nugget, sosis dan bahan siap saji lainnya). Lalu ditambah lagi malam hari, diberikan makanan cepat saji juga, tanpa ada sayur maupun buah yang seimbang. Kalau sesekali dalam satu minggu tidaklah apa, tapi bila itu dilakukan setiap hari maka yang terjadi anak akan mengalami kondisi gizi tidak seimbang, itu pasti. Alih – alih katanya anak tidak suka, tanpa disadari sebetulnya orang tua / sekelilingnya yang membentuk itu semua.

Belum lagi dari sisi psikologinya, anak seringkali mendapatkan perilaku berupa kata – kata yang tak semestinya diterima bahkan parahnya, tanpa disadari orangtua telah seringkali membully anak mereka sendiri. Contoh ringan misalnya, saat anak baru mencoba membuka ata melepas bajunya, dengan kemampuan motorik yang belum sempurna, orang tua tidak sabar lalu berkomentar “gitu saja tidak bisa …. kan sudah diajari, masa tidak bisa juga”. Atau saat anak sedang melakukan hal lainnya, belum lagi selesai dalam prosesnya lagi – lagi orang tua / orang dewasa lainnya sudah “ membunuh ” anak dengan kalimat “kok gak rapi, naahh kan, payah banget, salah… bukan begitu” dan sebagainya dan seterusnya. Ini artinya masih banyak orang tua / orang dewasa yang belum menyadari bahwa anak – anak sangat berbeda dengan orang tua, mereka buka orang dalam bentuk mini, yang bisa diajak berfikir dan bertindak selayaknya manusia dewasa.

Kembali pada stimulasi dan gizi yang baik, lebih lagi sejak anak usia dini, sangat penting untuk kelangsungan hidup mereka. Banyak hal yang mempengaruhi pola makan juga pola hidup yang sangat tidak sehat, satu contoh tentang aktifitas anak. Gerakan anak yang semestinya diberikan stimulasi, kesempatan dan pembiasaan penguatan maupun latihan yang berulang pada motorik halus dan kasarnya, kini dibatasi dan terhalang teknologi. Anak balita mana saat ini yang tidak mahir main gadget, smartphone dan komputer ? Terkadang justru malah orangtuanya belum tahu anak sudah mahir lebih dulu. Coba kita fikirkan, anak yang semestinya bermain berlari, melompat, memanjat atau main ketangkasan lainnya, ternyata mereka hanya duduk dengan tangan aktif menekan keyboard atau keypad. Mata yang semestinya melihat keragaman aktifitas hidup disekelilingnya, hanya terpaku pada satu benda yang memancarkan sinar dan getaran dengan radiasi berresiko tinggi bagi perkembangan otaknya.

Sudah saatnya semua elemen masyarakat saling mendukung dengan keberadaan aktifitas masing – masing yang sekaligus bermakna bagi kelangsungan hidup anak – anak. Islam memberikan petunjuk dengan menyebutkan bahwa orang tua haruslah mendidik dengan memberikan bekal fisik sehat, akal cerdas dan teladan yang baik. Hal itu terdapat pada Al Qur’an surah An Nisa’ Ayat 09 yaitu :
Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.
Adapun guru sebagai mitra yang mendampingi orang tua, mereka memberikan stimulasi yang tepat saat di sekolah, kemudian ada masyarakat luas juga memberikan teladan budaya yang seimbang pada kehidupan sehari – hari. Diperkuat oleh Pemerintah yang memberikan jaminan perlindungan dan dukungan dengan undang – undang atas hak pada anak. Intinya semua mempunyai tanggungjawab dan semua mempunyai perannya dalam perkembangan kehidupan anak, sebagai generasi bangsa.

Kebijakan pemerintah tentang pendidikan karakter adalah upaya perbaikan atas keberadaan generasi muda saat ini yang sarat dengan persoalan dan harus segera ada upaya nyata untuk mengatasinya. Pendidikan karakter pada anak adalah semua bentuk budaya berupa teladan dari orang – orang disekelilingnya. Mensikapi anak yang sedang mencoba melakukan kegiatan, adalah dengan memberikan dukungan bukan membantu aktif menyelesaikan secara langsung kegiatan mereka. Anak harus mau dan mampu mencoba sendiri, merasakan dan mengalami bagaimana upaya dari dirinya dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi. Semua pengalaman mereka akan terrekam serta tersimpan dalam memori otak mereka dan menguat sebagai konsep – konsep pengetahuan dan pembentuk karakter pada jiwa anak.

Otak Normal
Bicara soal otak, saya sangat tertarik pada sebuah buku yang diluncurkan pada 10 Ramadhan tahun 2012 (bersamaan Pengajian Ramadhan PP Muhammadiyah di Jakarta) judul buku tersebut “ Tuhan Dalam Otak Manusia” karya Taufik Pasiak seorang doktor, dokter sekaligus dosen dari Ambon. Dalam buku itu lebih dalam membahas tentang bagaimana otak bekerja, ketika semakin dikaji ternyata semakin banyak bidang yang bisa saling terkait atau dikaitkan. Salah satu dari inti bahasan disebutkan pengertian otak normal. Dinyatakan bahwa otak normal (normal brain) umumnya dikaitkan dengan usia atau fase perkembangan fisik otak yang bisa tergambar oleh sejumlah alat periksa otak, utamanya anatominya. Sejalan perkembangan kehidupan manusia, mereka mengalami banyak persoalan maupun hal lain, kemudian pada akhirnya ada yang memengaruhi fisik otaknya sehingga ada perubahan struktur maupun fungsinya.

Ketika ada ketidak sesuaian struktur pada otak, sudah pasti ada hal yang tidak sesuai dengan kondisi fisik atau juga psikis seseorang. Otak yang anatominya rusak atau otak abnormal berarti bahwa anatomi otak tersebut tidak sesuai dengan perkembangan yang sejalan dengan usia. Sebagai contoh konkret, pada anak penyandang autism secara mendasar pada biologisnya pasti ada perkembangan otak yang tidak normal. Namun perlu diingat pada masa perkembangan bisa terjadi, fase usia tertentu nampak adanya patologis (kerusakan / abnormal) pada potak, namun diusia selanjutnya otak sudah tampak sempurna dan normal.

Otak Sehat
Sementara pengertian otak sehat disebutkan dalam salah satu situs otak (http://brainfoundation.org.au/healthy-brain) dikaitkan dengan masa penuaan otak, yang dibuktikan atas kemampuan dan ketrampilan berfikir. Keunggulan manusia terletak pada kemampuan berfikir, pada koordinasi dinamis (neurobiologisnya) – hubungan sirkuit Neural ( jaringan saraf) antara Cortex Pre-Frontalis / CPF ( pusat pengelola dan penilai kegiatan semua fungsi saraf) dengan Amygdala (pada sistem limbik). Lebih jelasnya bahwa manusia berfikir kemudian menentukan tindakannya, memikirkan dan merencanakan masa ke depannya sekaligus menentukan nilainya. Jadi manusia dengan otak sehat berperilaku secara sadar bukan insting, karena sudah melalui pemikiran, penilaian dan penentuan langkah atau sikap.

Sikap perilaku yang terganggu bisa diobati setelah dipahami keberadaan otaknya. Setidaknya terlebih dahulu dipahami melalui neuroanatomi dan neurofisiologi, suatu ilmu yang membahas arsitektur dan fungsi sistem saraf melalui pendekatan makro. Menariknya bahwa didalam pokok materi tersebut juga mempelajari struktur sel saraf secara mikroskopik, bagaimana sel tersebut saling berhubungan satu sama lain untuk membentuk sebuah sirkuit (wiring diagram). Seseorang yang sudah sangat memahami susunan atau anatomi saraf, juga mengetahui dengan baik tentang neurofisiologis bisa menjadi seorang ahli ilmu saraf (neurosaintis). Selanjutnya seorang psikolog bisa juga menjadi seorang neurosaintis setelah dia mempelajari dengan baik neuroanatomi terutama otak. Bahkan seorang pendidik atau seorang ahli komputer sepanjang memiliki pengetahuan yang baik tentang neuroanatomi sampai neuroembriologi sangat memudahkan dalam memahami arsitektur dan fungsi otak.

Otak dan Stimulasi Dini
Berbicara tentang otak yang kita kaitkan dengan anak, tentunya setelah memperhatikan ataupun mencermati hal – hal diatas, maka sewajarnya dan semestinya orang dewasa mampu menempatkan bentuk – bentuk stimulasi mana yang sesuai dengan kondisi anak (sejak usia dini). Dalam suatu kajian terkait otak, yang diikuti oleh perwakilan pendidik PAUD – KB (Kelompok Bermain) se Jawa – Bali pada tahun 2009 di Lor Inn Solo, dr. Adre Mayza (salah seorang ahli neurologi Indonesia), menyebutkan bahwa agar otak optimal potensi kecerdasannya perlu diberi stimulasi sejak dini dengan bertahap baik stimulasi dasar juga stimulasi lanjutan.

Stimulasi dimaknai sebagai suatu proses masuknya rangsangan pada otak yang dilakukan secara sadar dan spesifik melalui reseptor pada permukaan tubuh, yaitu reseptor gerak dan pancaindra. Misalnya dimulainya stimulasi dasar dengan dari menempatkan bayi pada ruang cahaya yang bertingkat dari yang redup, agak terang, lebih terang kemudian terang. Demikian juga dengan suara, warna atau penglihatan, benda bertekstur maupun lainnya. Semua itu dilakukan dari yang paling ringan sampai batas kesesuaian dengan tingkat usia anak, yang terpenting dilakukan berulang – ulang. Seiring kematangan fisik maupun fungsi, pemberian beragam stimulasi tersebut idealnya dan senantiasa dilakukan dengan melibatkan emosi dan perhatian penuh.
Ketika stimulasi pengindraan maupun dasar emosi cukup intens, selanjutnya adalah stimulasi lanjutan yang meningkatkan proses persepsi, yang akan menumbuh kembangkan kemampuan kognitif maupun kematangan motoriknya. Kemampuan otak akan berkembang dengan beradaptasi, berinteraksi dan kemampuan menyesuaikan diri pada lingkungan untuk menyelesaikan masalah.

Pada bagan otak bisa kita lihat setidaknya dua pandang antara sistem vertikal – atas dan bawah serta sitem horisontal kiri dan kanan. Melalui alat berkekuatan kedokteran nuklir yang bernama SPECT disebutkan ada lima sistem utama pada otak. 1). Cortex Pre-Frentalis (terletak di atas depan sering disebut juga sebagai supervisor, membantu pusat perhatian, merencana, mengendalikan dorongan hatidan mengambil keputusan. Ketika korteks ini tidak / kurang aktif maka yang terjadi adalah fungsi pengawasan diri, fokus/ pusat perhatian dan pengorganisasian akan bermasalah), 2). Deep System Limbic (terletak di tengah otak yang berstruktur kecil, sebagai pusat pengatur suasana hati-mood control centre. Bila bagian ini bermasalah maka bisa dipulihkan kesehatannya dengan aroma terapi, interaksi positif dengan hal atau orang lain), 3). Ganglia Basalis (terletak di tengah otak berstruktur besar, pengatur kecepatan siaga tubuh. Bila bagian ini terlalu sering / aktif bekerja maka timbul kecemasan, panik, takut, dan menjauhi masalah. Sebaliknya jika pasif maka akan mengganggu konsentrasi, pusat perhatian dan gangguan motorik halusnya), 4). Gyrus Singulatus (terletak melintang pada tengah lobus frontal otak dalam, melintang dari kiri ke kanan. Ibarat tuas porsneleng dengan cepat akan memindahkan perhatian, berfikir atau arah pembicaraan. Bila terlalu aktif akan menyebabkan pikiran terikat pada satu hal, sulit beralih dan berfikir obsesif yang kaku), 5). Lobus Temporalis ( berada di belakang mata/bawah dahi, mempunyai peran untuk mengingat, bahasa, pengendali amarah dan pengenal wajah. Bila bagian kiri rusak maka seseorang akan menjadi mudah marah, sulit mengingat dan belajar serta suasana hati cepat berubah – rubah. Namun bila dia bekerja dengan baik, maka hasilnya adalah kedamaian batin / inner peace ).

Dengan alat kedokteran SPECT ini, dapat dilihat otak nampak lebih hidup dan dikaitkan dengan kasus penyakit, utamanya sakit jiwa. SPECT mampu menunjukkan secara global struktur otak sampai fungsi bagian otak secara detil. Aktivitas otak terlihat secara langsung melalui aktivitas pembuluh darah dan metabolisme otak. Jadi semua bagian otak itu perlu mendapat stimulus yang sesuai atau proporsional dan masing – masing bagian otak itu penting. Garis besarnya adalah sejak dini, tumbuh kembang otak semestinya ada stimulasi positif yang akan menstabilkan tekanan darah, nadi jantung, frekwensi nafas rendah, hormon kortisol pada level bawah serta menciptakan perubahan positif pada sistem kekebalan tubuh. Sangat penting bagi masyarakat luas memahami akan pengertian ramah otak ini, sehingga orangtua / orang dewasa mampu berlaku yang terbaik pada masa tumbuh kembang anak, baik saat di lingkup sekolah, keluarga atau masyarakat umum.

Keberadaan lembaga PAUD baik formal (TK, BA, RA dan yang sederajat) maupun non formal (KB, Pos PAUD, SPS dll) masih sangat variatif sistem proses pembelajarannya. Dibanyak lembaga pendidikan PAUD masih belum mampu menerapkan konsep dasar maupun prinsip dasar kebutuhan untuk pertumbuhan dan perkembangan anak. Semestinya sudah menjadi kewajiban dan tanggungjawab bersama menciptakan atau menyelenggarakan pendidikan yang berpusat pada kebutuhan dan minat anak. Ada banyak metode dan sistem belajar maupun pembelajaran saat ini, tetapi yang terpenting adalah ketulusan, kesabaran, keuletan serta semangat dalam mendampingi anak selama proses tumbuh kembangnya itu.

Menurut Megawangi (2004) ada 12 prinsip dasar ramah otak yaitu : 1). Otak bekerja secara paralel dan bersamaan, 2). Sistem kerja otak bekerja dengan seluruh organ tubuh, 3). Otak selalu mencari arti atau makna, 4). Otak mudah mencari informasi dengan pola yang sudah dikenal, 5). Emosi memengaruhi kerja otak, 6). Otak bekerja secara terbagi tapi menyeluruh, 7). Otak menerima informasi didalam maupun diluar fokus, 8). Proses belajar dilakukan secara sadar maupun tidak sadar, 9). Belajar dilakukan secara alamimaupun secara latihan, 10). Otak dapat memahami dan mengingat untuk sementara atau selamanya, 11). Otak tidak bekerja dengan baik dalam kondisi tertekan, 12). Setiap otak itu unik / berbeda satu dengan lainnya.

Setidaknya inti dari 12 prinsip ramah otak tersebut adalah stimulasi yang paling efektif adalah stimulasi positif, yaitu mendukung atau menciptakan rasa senang, nyaman dan aman agar kinerja otak optimal. Kemudian stimulasi tersebut dilakukan secara konsisten dimanapun keberadaan anak, baik di sekolah, di rumah atau di masyarakat sekitarnya. Tidak kalah penting yang perlu diingat bahwa dengan memberikan pilihan dan kesempatan yang terus mendukung minat bakatnya, akan mamperkuat jati diri anak sehingga mampu berkarya, berkreasi bahkan berprestasi dengan sebaik – baiknya.

Ada baiknya kita cermati beberapa kalimat dibawah ini, agar kita mampu merancang apa yang akan kita lakukan pada anak – anak. Merancang pemberian stimulasi, dukungan dan kepercayaan kepada meraka.
Anak aktif bergerak, berani bermain atau mencoba sendiri.
Anak aktif bicara, berani menyampaikan pendapatnya atau kebutuhannya.
Anak aktif berfikir dengan konsep recalling, ditanyakan untuk mengingat kembali apa – apa yang sudah dilakukan, ditemukan serta dimengerti meski secara sederhana.
Anak diberikan apresiasi – penghargaan atas upaya dan keberaniannya mencoba dan menghasilkan sesuatu.

Sebagai penutup, sangat perlu bagi orang tua, pendidik dan lingkungan terdekat anak, saling mendukung dan menguatkan konsep dan prinsip pembelajaran yang bermakna dan sesuai dengan tahap perkembangan anak sebagai penerapan pengetahuan perkembangan anak. Semoga tercapai kado 100 tahun Indonesia emas, tahun 2045 terwujudnya generasi berprestasi.

Leave a Reply:

Your email address will not be published. Required fields are marked *