Oleh : Budi Hastono

 Pekerjaan intelektual adalah pekerjaan seumur hidup,

iapun tidak akan pernah tuntas dan memuaskan.

Ada saja yang kurang, ada saja yang tidak genap

yang pasti kerja intelektual memerlukan kesabaran dosis tinggi

untuk terus berfikir dan berfikir terus dengan stamina yang prima

Penulis sengaja mengawali tulisan ini dengan kutipan. Kutipan yang menyatakan bahwa pekerjaan intelektual adalah pekerjaan berat. Pekerjaan yang tidak melulu berputar di wilayah teori namun nir aksi. Pekerjaan ini kian berat karena kerja intelektual merupakan kerja dua  dimensi: teori dan aksi. Sinergi dua dimensi inilah yang akhirnya menciptakan  hasil  maksimal dan berdampak sistemik.

Intelektual  merupakan  totalitas  pengertian  atau kesa-daran terutama yang menyangkut pemikiran dan pemahaman, atau mungkin kita juga dapat nyatakan, intelektual merupakan ketataan dan kesetiaan seorang manusia untuk melatih daya pikir serta melakukan proses pencarian sesuatu berdasarkan ilmu77. Dari situ diperoleh pemahaman bahwa, seseorang perlu memiliki kesadaran yang tinggi, baik terproses dalam pemak-saan atau terproses dalam kesediaan seluruh jiwa dan raga untuk melakukan proses intelektual. Proses yang membutuhkan kesabaran tingkat tinggi tersebut, tidak serta merta muncul dalam diri seseorang, melainkan diperlukan latihan dan kepe-kaan terhadap berbagai macam kejadian.

 

KEBEBASAN DAN GERAKAN INTELEKTUAL KENABIAN

Melakukan pengembangan terhadap dunia intelektual memerlukan sebuah komponen utama, yaitu kebebasan. Kebeba-san dalam berfikir tentunya menjadi hal yang mutlak dimiliki untuk melakukan kerja berat intelektual itu. Keterbelengguan dalam berfikir hanya akan menyebabkan terjadinya kebebalan dalam berfikir.

Kita sebagai manusia yang di daulat Tuhan untuk menjadi wakil-Nya di bumi ini memiliki pekerjaan yang mulia untuk memakmurkan bumi ini. Menjadi wakil Tuhan di muka bumi merupakan tujuan yang di siapkan Tuhan mengapa manusia di ciptakan. Untuk menjalankan tugas yang demikian itu, yaitu menjadi wakil Tuhan di muka bumi Tuhan tidak menjadikan manusia sebagai agent yang dikemudikan oleh Tuhan, melainkan sebagai pribadi yang bebas dan bertanggung jawab atas segala tindakannya. Kebebasan merupakan suasana mutlak bagi perkembangan kreativitas. Dan kebebasan itu dijamin langsung oleh Tuhan bagi manusia78.

Mengalami zaman gila, serba sulit dalam pikir. Ikut gila jika tidak tahan. Jika tidak ikut tidak dapat kebahagiaan. Akhirnya kelaparan. Untungnya takdir Allah, seuntung untungnya orang lupa/lalai, lebih untung orang yang ingat dan waspada79. Apakah wilayah sastra dapat dikatakan dalam wilayah intelektual kenabian? Serat dari Rangga warsito mungkin bisa mewakili sebuah satra yang mengalami tranformasi positif terhadap pemakanaan hidup.

Sastra sebagai perwujudan pikiran dalam bentuk tulisan, sastra tidak muncul serta merta atau dalam bahasa jawa ujug-ujug.Sastra muncul dari perenungan panjang yang tentunya menyediakan runga berfikir yang mendalam untuk mebentuk sastra itu, maka apakah lingkup sastra mampu dikatakan dalam lingkup pekerjaan intelektual? Seperti yang di sampaikan pada prolog diatas.

Sebelum sastra disampaikan dalam lingkungan intelektual atau bahkan gerakan intelektual kenabian kita perlu mengetahui sebenarnya apa yang dapat kita ketahuai mengenai gerakan intelektual kenabian atau akrab dikenal gerakan intelectual prophetic. Literatur-literatur mengenai gerakan prophetic sekirranya tersebar di toko-toko buku dan itu bisa kita baca secara mandiri. Secara masa dan waktu, islitah gerakan kenabian atau prophetic diawali dari sejarawan Kuntowijoyo yang sering di panggil Mas Kunto.

Dalam berbagai literatur, dijelaskan bahwa pandangan Mas Kunto mengenai paradigma profetik banyak di pengaruhi oleh tulisan-tulisan Muhammad Iqbal dan pemikir lain. Salah satu pemikir yang melatarbelakangi Mas Kunto mengembangkan ilmu-ilmu profetik lebih utamanya ilmu sosial profetik adalah Roger Garaudy seorang filosof prancis yang masuk Islam.

Menurut Mas Kunto “Pengembangan Paradigma Islam itu merupakan langkah pertama dan strategis ke arah pembangunan Islam sebagai sistem, gerakan sosial-budaya ke arah sistem Islam yang kaffah, modern dan berkeadaban. Dengan demikian Islam akan lebih credible bagi pemeluknya dan bagi non-Muslim…” (2006: ix)80.

Apa yang Mas Kunto lakukan adalah sebuah langkah awal untuk mewujudkan sebuah Paradigma Islam dalam jagad ilmu pengetahuan, yang sampai saat ini umumnya menggunakan basis paradigma dari dunia Barat. Sejatinya paradigma profetik hingga saat ini masih terus berkembang untuk melakukan proses perubahan terhadap realitas masyarakat saat ini, karena semangat nabi adalah semangat perubahan.

 

MENGARTIKAN GERAKAN PROFETIK

Terlebih dahulu kita mencoba mencari referensi yang tepat untuk mengartikan gerakan intelektual profetik ini. Istilah profetik dapat kita artikan sebagai sifat kenabian, karena akar kata profetik berawal dalam bahasa inggris yaitu ‘prophet’, yang berarti nabi.

Gerakan profetik dibangun dalam suasana kenabian dengan pendekatan konsepsi keagamaan Islam. Hal ini didasarkan pada titik tolak pengertian yang di sampaikan Mas Kunto, mengacu kepada nabi Muhammad SAW. Konsepsi yang disampaikan Mas Kunto tersebut tidak muncul begitu saja, melainkan muncul dari proses dialektis perenungan Mas Kunto mengenai kejadian-kejadian yang dialami oleh Mas Kunto.

Mas Kunto menjelaskan bahwa kemunculan paradigma gerakan kenabiannya muncul karena alasan. Salah satunya ada-lah banyaknya perdebatan antara cendekiawan muslim menge-nai teologi. Sebagian cendekiawan mengaggap Islam adalah ilmu kalam. Islam dianggap sebagai ilmu ketuhanan yang bersifat abstrak normatif dan skolastik. Sedangakan pada kubu lain, yaitu kaum transformatif, menganggap bahwa teologi adalah penaf-siran terhadap realitas yang ada dalam perspektif kekuhanan. Perbedaan pandangan antara keduanya sulit untuk di pertemu-kan, karena keduanya mengartikan dan memberi makna masing-masing.

Untuk mempertemukan kedua alam berfikir tersebut, Kuntowijoyo mengusulkan untuk mengganti istilah teologi, de-ngan istilah ilmu sosial. Mulailah saat itu nama ilmu sosial yang nantikan dikenal dengan gerakan profetik.

 

SASTRA MENUJU PROSPEK KENABIAN

Apakah sastra mampu menjadi semangat perubahan masa? Apakah semangat sastra mampu menjadi inspirator perubahan kehidupan manusia? Pertanyaan ini muncul ketika konsepsi sastra kita sejajakan dengan gerakan kenabian.

Pada dasarnya Nabi dan Rasul merupakan teorisasi sosial dimana mereka tidak takut mereka mengkritik masyarakat dizamannya sekaligus memberi visi tentang masyarakat masa depan yang adil rasional dan sejahtera. Pekerjaan Nabi sebagai intelektual induktif mampu menjembatani dunia jahiliyah dengan dunia pencerahan.

Sastra, sebagai hasil karya sastrawan, idealnya memiliki fungsi moralitas dan fungsi religius. Fungsi religius sastra sedikit banyak mampu merekonstruksi moralitas pembacanya menuju moral akhlakul karimah. Dengan kata lain,  moralitas mampu memberikan pengetahuan kepada pembaca agar mampu memahami perbedaan moral yang baik dan buruk.

Sedangkan fungsi sastra dalam religiusitas yaitu, mengantarkan pembaca kepada pemahaman keagamaan yang dapat dipahami oleh pembaca. Semangat sastra kenabian ini diharapkan mampu meningkatkan moralitas kehidupan dalam proses rekonstruksi moral manusia.

Salah satunya ialah puisi. Puisi merupakan salah satu sastra yang muncul dari pendalaman tertinggi penciptanya. Tidak jarang puisi dinyatakan sebagai karya yang muncul di luar kesadaran manusia. Puisi muncul dari titik ketidaksadaran manusia yang mengedepankan kejujuran dan kedalaman makna.

Selain puisi, cerpen atau karya lain yang muncul seri-ngkali masih belum mengedepankan nilai-nilai yang mendalam. beberapa kali, sastra masih mengedepankan sisi estetis yang mengedepankan selera masyarakat. Kurang membumi. Misal saja seperti fenomena munculnya sastra cinta remaja yang menge-depankan sisi cinta dan kehidupan konsumerisme remaja.

Sastra yang diwakili oleh puisi, cerpen maupun novel sebagai contoh karya sastra, seharusnya dapat dijadikan media dalam menyalurkan semangat kenabian. Tentu saja, karya sastra tersebut harus memiliki fungsi moralitas dan religiusitas sebagai fungsi yang mewakili sastra menuju prospek kenabian. Prospek ini bukan hanya sebagai keinginan individual, melainkan bertu-juan untuk menjadikan sastra sebagai alat rekonstruksi kehidu-pan masyarakat luas.

Rekonstrusi ini dapat diawali dari bangku sekolah formal maupun non formal bahkan informal. Pendekatkan sastra pada prospek kenabian dilakukan agar di masa depan, pendidikan di sekolah mampu membentuk karakteristik kenabian. Karak-teristik yang menginisiasi perubahan dan semangat pencerahan, karena sastra adalah makna dari keidupan.

 

RANGGAWARSITA, MUHAMAMMAD IQBAL HINGGA KUNTOWIJOYO

Nama Ranggawarsita bisa jadi masih banyak dikenal oleh masyarakat. Bisa pula, masyarakat hanya mengetahui Rangga-warsita karena namanya diabadikan sebagai nama museum di Semarang. Mungkin juga, ada yang benar-benar tidak kenal siapa sosok Ranggawarsita. Apalagi dikalangan remaja dewasa ini, mungkin nama Ranggawarsita bahkan hilang ditengah nama-nama artis korea dan artis lainnya. Ironis.

Karya sastra Ranggawarsita sebagai manusia Jawa asli dari Surakarta mampu kita sebut sejalan dengan semangat sastra kenabian. Sebuah proses perubahan zaman disampaikan Rang-gawarsita dalam serat kalatidha nya. Serat Kalatidha atau Kalatidha adalah karya sastra dalam bahasa Jawa karangan Raden Ngabehi Rangga Warsita yang berbentuk tembang macapat. Karya sastra ini ditulis kurang lebih pada tahun 1860 Masehi.

Amenangi jaman edan,

Ewuh aya ning pambudi,

Milu edan ora tahan,

Yen tan milu anglakoni,

Boya keduman melik,

Kaliran wekasanipun Dilalah karsa Allah,

Bagja-bagjane kang lali,

Luwih bagja kang eling lawan waspada

( Pupuh sinom, pada 4 )

Karya yang beliau sampaikan bukan sekedar celotehan beliau pasca tidak dinaikan jabatannya. Beliau seperti mengeja masa. Karya demikian mampu memberikan pengertian bagai-mana manusia harusnya hidup dengan mengedepankan ingatan kepada Dzat segala dzat. Dengan demikian, manusia akan menja-di bagian dunia yang beruntung, lebih beruntung dari pada orang yang lupa.

Semangat profetik atau semangat kenabian sastra Rang-gawarsita mengedepankan sisi religiusitas dalam hal ingat kepa-da Tuhan. Dengan ingat kepada Tuhan, Ranggawarsita menyata-kan manusia akan beruntung. Lebih beruntung daripada orang-orang yang lupa dan lalai terhadap Tuhannya.

Menurunnya semangat membaca sastra dikalangan re-maja dan pelajar menjadi kendala dalam memberikan pengertian bagaimana sastra profetik mampu menrekonstruksi kehidupan masyarakat umum. Maka, diperlukan cara yang tepat untuk mencoba menyiasati keadaan demikian melalui pembentukan komunitas-komunitas sastra profetik.

Satu lagi sastrawan yang mengusung semangat kenabian, yaitu Muhammad Iqbal. Muhammad Iqbal dikenal sebagai filsuf dan pemikir besar islam dari Timur. Beliau telah mengukir hidupnya sedemikian rupa sehingga dikenang umat manusia hingga ratusan tahun melalui karya puisi dan prosanya. Puisi-puisinya sering dinyatakan sebagai sastra karya profetik karena ditulis berdasarkan visi kerohanian yang terang dan mampu memberi petunjuk tentang arah masa depan kehidupan manusia.

Beliau prihatin melihat bagaimana kaum muslimin tidak lagi memiliki sistem nilai dan pandangan hidup yang Islami. Dalam sajaknya, Iqbal menulis “kepada saqi, penuang anggur”, lebih kurang:

Adat zaman mulai bertukar

Nada dan lagu baru terdengar

dimana-mana Dari mimpi masa

silamnya cina mulai bangkit

…………………….

Namun orang islam yang berpegang kepada tauhid.

Jiwanya masih terbelenggu keramat

Seni, hukum falsafah dan ilmu

kalamnya Masih tercemar

persembahan berhala.

Iqbal merupakan sastrawan timur yang mengedepankan semangat kenabian, ia melihat kelemahan kaumnya yang masih tercemar berbagai praktek kehidupan yang menjadikan masya-rakat muslim terjebak dalam kejumudan atau kebodohan. Sema-ngat islam tidak lagi semangat perubahan tatanan masyarakat namun islam mundur karena masyarakat salah dalam mengar-tikan keagaamaanya.

Keagamaan yang dimaknai hanya egoisitas manusia untuk mencapai surga secara pribadi, padahal semangat kena-bian adalah semangat perubahan sosial secara menyeluruh, sosial, politik, kebudayaan, pendidikan dan lainya. Bang Kunto yang kita kenal, merupakan sastrawan Indonesia yang memper-kenalkan budaya profetik kepada masyarakat intelektual masa itu. Beliau mengenalkan semangat perubahan sosial pada sebuah dinamika kehidupannya salah satunya dalam hal sastra. Sastra-sastra beliau banyak yang mengedepankan semangat kenabian, dari puisi hingga cerpen bahkan novel. Salah satu puisi yang mengisyaratkan bahasa religius adalah sebagai berikut:

Angin gemuluh di hutan

Memukul ranting yang lama

juga Tak terhitung jumlahnya

Mobil di jalan dari ujung ke ujung

Aku ingin menekan tombol

Hingga lampu merah itu berhenti Angin,

mobil dan para pejalan

Pikirkanlah, kemana engkau pergi

( Suluk Awang Uwung )

Semangat profetisnya terlihat dengan bahasa kias yang menyembunyikan makna bagaimana rutinitaas dunia mampu melalikan manusia pada konsepsi dirinya sebagai hamba Tuhan semesta alam. Namun demikian banyak karya novel beliau yang mengedepankan segi kebudayaan dan semangat profetis.

Sejarah mencatat sastrawan-sastrawan besar yang menyemai karyanya dengan bumbu semangat kenabian, sema-ngat kenabian yang mengedepankan semangat perubahan sosial. Semangat ini mungkin hari ini masih belum membumi, maka diperlukan pendidiakn agar sastra kenabian dalam arti pembe-basan ini mampu benar-benar di konstruksikan dalam kehidupan maasyarakat, sehingga masyarakat mampu menemukan arah hidup melalui sastra.

Satu hal penting dalam membumikan sastra ini adalah dengan dunia pendidikan. Dunia pendidikan sebagai manifestasi intelektual kehidupan menjadi penting untuk memasukan sastra profetik ini dalam dunia pendidikan, entah sebagai pembelajaran makna secara menyeluruh atau dimasukan dalam pembelajaran non kurikulum atau dalam hiden kurikulum untuk membentuk karakter siswa. Sehingga ketika karakter siswa mampu di kons-truksi secara baik semoga kehidupan msyarakat mampu menjadi lebih baik.

Semoga tulisan sederhana ini mampu menjadi pandangan awal untuk membumikan kembali sastra genre profetik agar terjadi keseimbangan sastra-sastra populer. Sastra populer harus di beri semangat profetik, namun semangat profetiknya adalah semangat profetik pembebasan seperti semangat islam yang melakukan pembebasan terhadap ketertundukan masyarakat kepada pemimpin yang dzalim, maka semangat Islam adalah menghancurkan ketertundukan itu menjadi kebebasan yang membebaskan.

Leave a Reply:

Your email address will not be published. Required fields are marked *