Oleh : Fitri Fauzy

Literasi secara bahasa artinya keaksaraan. Arti literasi secara luas adalah kemampuan orang untuk memahami, merasakan isi dari sebuah bacaan dan mengolah, menuangkan hasil   pemikiran, perasaan dan imajinasi ke dalam sebuah tulisan.

Hal yang lebih sederhana dari kedua komponen literasi membaca dan menulis adalah membaca. Dengan membaca, orang tidak hanya memperoleh pengetahuan, hiburan, namun akan merubah cara pandang, pola berpikir orang tersebut. Bahkan dalam sekala yang lebih luas lagi, dengan membaca akan merubah peradaban sebuah negara maupun dunia. Perubahan-perubahan peradaban dunia dari masa ke masa, tentu membaca adalah peran yang paling memberi andil.

 

Berbicara peradabah sebuah Negara, bagaimana dengan nasib peradaban Negara Indonesia di masa-masa mendatang, jika menilik hasil riset UNESCO pada peringatan Hari Aksara Internasional tanggal 8 September lalu, bahwa dari 61 negara, tingkat Indonesia menempati peringkat ke 60. Hal ini menunjukan bahwa kemampuan literasi yaitu membaca dan menulis masyarakat Indonesia sangat rendah, yaitu 14,6%, presentasi ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan literasi Malaysia yang mencapai 28% dan Singapura 33%.

Mengapa tingkat literasi Indonesia sangat rendah?,

Pertama, minat baca masyarakat Indonesia masih rendah. Masyarakat Indonesia tidak terbiasa suka membaca. Jika kita menengok rumah-rumah keluarga Indonesia, jarang memiliki lemari khusus menyimpan buku-buku. Dalam keluarga yang sangat berperan penting adalah orangtua. Untuk itu orangtualah yang seharusnya melatih anak-anaknya suka membaca sejak dini. Namun bagaimana mungkin jika orangtuanya sendiri tidak suka membaca.

Kedua, kegemaran menulis masyarkat Indonesia juga rendah. Masyarakat Indonesia tidak terbiasa menulis  setiap apa yang dirasakan, dipikirkan, dilihat dan diimajinasikan. Hal ini ditandai dengan enggannya pelajar jika diberi tes menulis dalam pelajaran bahasa, selain memang semakin berkurang intensitas tes menulis di setiap evaluasi, atau dijaman dulu namanya tes mengarang. Dan juga ditandai dengan masih sedikit produksi buku-buku, jumlah penulis Indonesia juga jauh lebih sedikit dibanding Negara-negara lain.

Ketiga,tingginya  tingkat anak putus sekolah atau tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan kurangnya fasilitas pendidikan yang memadai.

Namun sekarang geliat semangat meningkatkan literasi di Indonesia sudah mulai usaha kearah yang lebih baik. Hal ini ditandai semakin banyaknya generasi muda yang mendirikan pelatihan menulis online atau langsung, juga mengadakan lomba menulis baik melalui online ataupun langsung. Bahkan dari organisasi misalnya Muhammadiyah, mengadakan seminar literasi.

Semoga dengan usaha-usaha yang dilakukan generasi muda dan organisasi yang peduli dengan litersi Indonesia akan meningkatkan tingkat literasi Indonesia yaitu masyarakat Indonesia yang gemar membaca, gemar menulis sehingga akan merubah peradaban Negara yang lebih baik. Aamiin.

Leave a Reply:

Your email address will not be published. Required fields are marked *