Oleh : David Efendy

Siapakah kita di hadapan rak-rak buku?
Siapakah kita didepan buku yang baru saja kita pinjam dari perpustakaan?
Siapakah kita dihadapan buku yang baru saja kita beli dari uang keringat kita bekerja?

Siapakah kita dihadapan berderet-deret buku dari bantuan berbagai kalangan untuk komunitas kita?

Siapakah kita dan siapakah buku?
Kita sahabat? Kita saling menyapa? Dan saling bercengkerama?

Siapakah diri kita di hadapan ilmu pengetahuan di dalam buku?
Apakah mereka menghargai niat dan kerja keras kita membacanya?
Apakah mereka menganggap kita manusia yang isi kepalanya pengetahuan?
Ataukah buku-buku itu sinis memandang kita sebagai seonggok daging minus pengetahuan?

Apakah pernah kita malu di pandang oleh rerimbun buku?
Atau kita malu kepada buku yang menertawakan betapa kita terpuruk dari pengetahuan yang serba terbatas?

“Pernahkah kita memanusiakan buku?”
“Pernah?”
“Ya pernah sesekali.”

Yang lebih sering adalah memandang buku dengan akal tidak sehat:

“ah buku, sama seperti barang mati lainnya, tak perlu dibela!”

Lalu tibalah pengadilan besar perbukuan di akherat kelak mempertanyakan nasib dan siapa manusia di hadapan buku:

“hai manusia, kau tak pernah lebih berharga dari satu kalimat yang ada di dalam diriku (buku). Sekarang kamu silakan membela dirimu”

Lalu waktu menenggelamkan semua urusan itu.

Leave a Reply:

Your email address will not be published. Required fields are marked *