TERUSLAH BERDAGANG

April 9, 2018

Oleh : Nur Yulia Mardiyati Harahap

Di awal awal pernikahan kami,puluhan tahun yang  lalu,suami yang pns, mengajar didaerah lumayan jauh (perjalanan naik kendaraan bermotor mungkin 1 jam lebih ditempuhnya).Gaji awal pns waktu itu sangat pas pasan,kira kira Rp 240.000,perbulan terbagi Rp 100.000, untuk bensin,Rp 50.000,untuk penunggu dompet dan sisa Rp 90.000 untuk anak istri hihihihi…..bukan lagi ngecilin peran suami (swear looo) tapi justru itu menjadi motivasi terbesar buatku…bahwa menjadi seorang istri akupun ingin mencari tambahan rejeki,meringankan beban suami tercintaaaa….

Keinginan kuat memiliki usaha membuat aku banyak bertanya ke suami,”eh pak pingin usaha,modalnya dari mana ya?”  ”eh pak utang aja kali ya?” “eh pak ntar kalo nggak laku,enggak jalan usahaku bagaimana ya?”. Suami mulai mengerutkan dahinya  menatap mataku sembari menyiapkan jawaban yang kayaknya masih ada diawang awang nunggu jatuh dari langit kali ya mas bojo…hehehe.

Ketika memiliki satu momongan dengan tenaga yang masih berasa sehat,usia juga relatif muda (21 tahun lalu bro)pikiran juga masih kenceng rasanya kebayang bisa cari  dan menjadi dorongan yang kuat banget,butuh duit banget gitu loh (dunia banget ya!). Ah bodo amat dengan modal ya mas bojo! Kan banyak juga kado kado dari teman teman yang masih layak buat dijadikan pajangan dagangan,selebihnya kita ngutang ya mas bojo……(aduuuh ngutang! Sedih kalo inget perkara utang utangan ini).

Singkat cerita(takut pada bosan ngebacanya),jreng,,,jreng,,,jreeeng,,dibukalah toko kecil kecilan,toko dari sewa bukan toko sendiri hihihi dengan isi toko kado kado pernikahan kami wakwakwak….tambah ada beberapa barang plastik plastik ember,bak,baskom,panci,piring gelas dan beberapa jenis gerabah lainnya yang minim jumlahnya juga ala kadarnya.

By the way mulailah aku terjun bebas ke dunia usaha,wuiiih memulai dunia baruku,ciee dunia usaha yang waktu itu aku pikir sederhana banget dan ternyata lumayan riweuh juga hahaha…(syukuri aja lah).

Maju tak gentar

Walau belum tentu benar (ngeribanya itu loh uuuh sedih)

Tapi mata ini masih juga nanar

Tenggelam..

Diawal rintisan dunia yang terhampar

Mengawali usaha kecilku waktu itu,pagi mesti buka toko dan semangatkupun semangat 45 bak pejuang kemerdekaan,kutata setiap daganganku satu persatu seorang diri mulai dari angkat anagkat kompor minyak (dulu belum ada kompor gas bro),ember ember karet,ember plastik ada juga tutup saji dan beberapa jligen dari bermacam macam ukuran yang mesti kugantung gantung biar pemandangan toko wajahnya terlihat ramai bak pasar ramayana padahal ssih daleman toko banyak yang melompong ruang hampa tak terisi hihihi…pagi itu angkat mengangkat barang menjadi kekuasaanku terkecuali suami dapet libur sekolah,kalo sekarang enggak terbayang tuh dulu,21 tahun lalu aku pernah selincah itu,,,wow keren!. yang hampir terlupakan setiap aku menata barang daganganku ada anak laki lakiku kira kira usianya 3 tahun lebih selalu duduk disudut toko sembari memandangi bundanya yang sedang angkat angkat dagangan,sesekali mengguncang guncangkan tumpukan baskom baskom yang meninggi pertanda protes pada bundanya pingin ditegur (mungkin bundanya lagi sibuk beres beres),pingin disapa atau sekedar ingin dibelikan jajan saja,,,kepasar bawa anak karena belum bisa bayar asisten rumah tangga hehe. Ah Asel kamu sekarang sudah besar yaa sudah paham juga sama duit,bahkan paham banget buktinya sudah enggak di pondok masih juga minta jatah bulanan enggak lucu kali!,ya masa kecilmu menjadi saksi utama bahwa berusaha itu mesti yakin jangan terlalu takut dengan bayangan gagal!.

Senengnya mengawali usaha terus dapat pelanggan,asyik banget rupanya,,,ada pelanggan yang dari awal kami usaha ditahun 2002 sampai dengan 2017 ini masih setia menjadi pelanggan kami wow banget bukan?…dan semua itu membuka mataku lebar lebar bahwa ternyata banyak saudara di luar sana.

Satu kisah yang tak kulupakan.Sewaktu  pelangganku yang bernama bu Masri “ayam”,beliau penjual ayam kampung di pasar kami,yang nama  panggilan deketku mbokde Masri, beliau pagi beli ember,siang datang kembali beli kompor,sorenya datang lagi beli rantang,dengan spontan dan lantang anakku teriak “Bu aja bola bali mrene liiii,dagangane ibune aku engko entek!”,  (arti “bu jangan bolak balik ke sini dagangan ibuku ntar habis!”),,,nada Asel penuh amarah.

“Maaf ya bu…anakku belum paham”, akau tertawa lebar tak bisa menahan geli dengan tingkah lucu Asel. Belum puas dengan amarahnya tiba tiba Asel menepuk keras pantat mbokde masri “wis lunga ngana bu!” (“Dagh pergi sana bu”.)….Duuuh Asell wakakakk,bujang kecilku ini belum paham dunia dagang,lucu juga untuk dikenang.

Waktu semakin berlalu,kudekap buku  penjualanku,kubuka perlahan lembar demi lembar,laba penjualanku dari hari kehari ,,,,jreeeng,,,,kutotal sungguh tak seberapa! minim sekali huk huk huk sangat tidak sebanding dengan keringatku yang mesti jaga toko sekaligus momong,,,,tidak nutup sewa,belum transport,belum lagi jajan anakku,,bagaimana ini ????? ada perasaan yang teraduk aduk kala itu broo,,yaaa rejeki emang udah terbagai kok,bodo amat dengan semua oprasionalku (perhitungan yang konyol juga),yang penting laba bisa buat sewa,dan transport, oprasional lain dipikir lain waktu aja hahaha…..sekarang jalani ajaa sambil terus berdoa dan yakin bathinku.

Eng ing eng ….mulai dech ada pesanan waktu itu dapat pesanan dari paguyuban ibu ibu guru wanadadi seneng tak terperi hehe,akhirnya semakin sering dan semakin banyak, pesananpun bertambah. Singkat cerita dengan berjalannya waktu Alloh telah luaskan usaha kami,enggak tau doa dari mulut siapa yang telah Alloh kabulkan untuk segala kemudahan ini,bisa jadi doa ibu bapak,mertua,sanak saudara,teman atau peminta peminta yang masih saja memeriahkan pintu toko kami yang telah diijabah oleh Alloh Jallajalaluh.Tidaklah mungkin kita bisa berdiri sendiri tanpa energi sedikitpun dari mereka,so jangan pernah berpikir  dan mengukur kebahagiaan dan kesuksesan yang kita peroleh semata dari diri kita pribadi,karena pasti banyak orang yang sayaang yang terlibat tuuh dalam doa doanya.

Setelah kupikir ternyata seni  berdaganag itu tidak hanya sekedar urusan untung dan rugi tapi bersabar,berdoa dan bersemangat. Rejeki adalah semangat kita.

Mental berdagang sungguh tak sesederhana yang saya bayangkan menyiapkan mental ;

Saatnya sepi….

Sedikit pembeli…

Saat rencana tak semulus jalan tol hehe…

Bertemu pengomplain…

Pembeli yang bisa bikin serasa mau pingsan hehe…saking rewelnya…

Tapi banyak juga pembeli yang baik hati banget loo…

Adakalanya sehari tidak ngode alias kerja bakti karena hanya cukup buat ongkos sewa dan bayar karyawan… pinginnya tetep ngebesarin rasa syukur siiih.

Akan tetapi lebih dari itu semua,sesungguhnya suka duka berdagang luar biasa,

Sabar

Sabar

Dan

Sabar

Itu adalah pelajaran terbesar yang aku dapatkan walaupun masih terus belajar,

Saat saat laku siiiih

Rejeki seperti mengalir

Menguji kembali untuk bercermin diri,sudahkah bersyukur??,sudahkah melihat saudara saudara yang jaluh lebih berkekurangan,sudahkah berinfak? Sudahkah besedekah? Sudahkah kita tidak melalaikan kewajiban kita kepa Alloh??.

Sudahkah kita peduli denggan saudara muslim nun jauh disana hidup penuh dalam kekurangan dan penderitaan tak terperi?? Yaa saudara kita di bumi syam,syiria,Palestina, juga Burma,dan Rohingnya.Atau kita masih saja penuh perhitungan dalam berzakat,berinfak dan bersedekah???.Semoga semua rejeki yang ada selalu menjadikan cermin diri untuk semakin perduli kepada sesama .

Ditahun 2016 sampai dengan bulan bulan 2017 sebelum Romadhon lalu dunia perdagangan dipasar tradisional begitu senyap,tak tau efek apakah gerangan,politik yang tidak stabil atau perekonian global dunia,atau stabilitas negara yang memburuk akupun tak tau pasti,yang jelas bisa bertahan di dunia usaha itu sungguh bersyukur luar biasa. Sepertinya kembali diingatkan untuk selalu tersadar bahwa tak ada tempat bersandar yang kokoh selain Alloh Jallajalaluh,tempat memohon segala keajaiban.

Semua ini tetap mesti dijalani,karena kuyakin Alloh telah menuliskan takdirnya……

Inilah jalan rejeki kami…..

Inilah jalan sedekah kami….

Inilah jalan nafkah…..

Yang mesti dilalui….

Maka teruslah berdagang….

Dengan penuh keyakinan…..

Selamat berdagang,walau lebaran telah berlalu,semoga selalu laris manis tanjung kimpul barang laris duit kumpul….

Berdagang itu terbuka luasss persaudaraan …

Berdagang itu menyenangkan…

Berdagang itu sunnah…

Berdagang itu cara berkomunikasi yang menjadikan pribadi lebih lues

Berdagang itu asyikkk banget..sumpriittt.

Tulisan kecilku ini sebenarnya tidak lebih hanya  untuk memotivasi diri aku sendiri yang terkadang kembang kempis menghidupkan semangat menikmati dunia perdagangan.

 

(belajar tiada henti)

—————————

Leave a Reply:

Your email address will not be published. Required fields are marked *